<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Petualangan.Com &#187; Tutorial</title>
	<atom:link href="http://www.petualangan.com/category/tutorial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.petualangan.com</link>
	<description>Pusat Informasi dan Komunitas Petualang Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Apr 2010 09:27:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<image>
<link>http://www.petualangan.com</link>
<url>http://www.petualangan.com/wp-content/plugins/maxblogpress-favicon/icons/favicon-p.ico</url>
<title>Petualangan.Com</title>
</image>
		<item>
		<title>Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)</title>
		<link>http://www.petualangan.com/2008/09/pertolongan-pertama-pada-kecelakaan-p3k/</link>
		<comments>http://www.petualangan.com/2008/09/pertolongan-pertama-pada-kecelakaan-p3k/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 07:02:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jelajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tutorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.petualangan.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Sehari-hari dimana saja dan kapan saja, tidak jarang kita jumpai berbagai macam kecelakan, dengan akibat luka ringan maupun berat.
Menilik dari hal tersebut, diharapkan kita dapat menguasai dan menerapkan pengetahuan tentang pertolongan pertama apabila terjadi kecelakaan.
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan/Gangguan Yang Diakibatkan Oleh Aktifitas di Alam Bebas :
1.Gangguan Umum
a. Shock
Tanda-tanda :
- Kesadaran menurun, denyut nadi cepat, lemah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sehari-hari dimana saja dan kapan saja, tidak jarang kita jumpai berbagai macam kecelakan, dengan akibat luka ringan maupun berat.<br />
Menilik dari hal tersebut, diharapkan kita dapat menguasai dan menerapkan pengetahuan tentang pertolongan pertama apabila terjadi kecelakaan.</p>
<p>Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan/Gangguan Yang Diakibatkan Oleh Aktifitas di Alam Bebas :<br />
<strong>1.Gangguan Umum</strong><br />
a. Shock<br />
Tanda-tanda :<br />
- Kesadaran menurun, denyut nadi cepat, lemah dan kemudian menghilang.<br />
- Kulit pucat, dingin dan lembab.<br />
- Nafas dangkal tidak teratur.<br />
- Mata hampa, suram.<br />
- Penderita merasa pusing, mual.<br />
<span id="more-96"></span><br />
Penyebab :<br />
- Tekanan emosi hebat<br />
- Kehilangan darah atau cairan<br />
- Keracunan</p>
<p>Pertolongan :<br />
- Baringkan penderita dengan kepala lebih rendah, kecuali pasien menderita gegar otak dan patah tulang.<br />
- Kendorkan pakaian, beri selimut.<br />
- Jangan beri minum.</p>
<p>b. Pingsan<br />
Tanda-tanda :<br />
- Penderita tidak sadar, terbaring tidak bergerak, terkadang sangat gelisah.<br />
- Pernafasan ada nadi berdenyut.<br />
 <br />
Penyebab :<br />
- Kurang memeproleh zat asam.<br />
- Terlalu kepanasan/kedinginan, kesakitan.<br />
- Keracunan<br />
- Penyakit kronis, ginjal, jantung, diabetes, dsb.<br />
 <br />
Pertolongan :<br />
- Baringkan penderita ditempat teduh dan udara segar.<br />
- Bila wajah pucat, kepala direndahkan (sebaliknya).<br />
- Buka/longgarkan pakaian.<br />
- Bila penderita muntah, letakkan kepala dalam posisi miring, untuk mencegah muntahan terselak masuk ke paru-paru.<br />
- Beri penyegar (decologne) atau amoniak agar segera sadar.<br />
 <br />
c.Mati suri<br />
Tanda-tanda :<br />
- Kesadaran diantara pingsan dan mati.<br />
- Pernafasan tidak nampak.<br />
- Nadi tidak teraba.<br />
- Wajah pucat kebiru-biruan.<br />
Penyebab :<br />
- Tidak dapat bernafas<br />
- Menghirup gas beracun.</p>
<p>Pertolongan :<br />
- Lakukan seperti penderita pingsan.<br />
- Bersihkan jalan nafas.<br />
- Segera bawa ke dokter.<br />
 <br />
<strong>2.Kejang otot (Kram)</strong><br />
Penyebab :<br />
- Terlalu letih<br />
- Karena dingin/panas<br />
- Kekurangan garam, rendahnya kadar mineral.<br />
- Bernafas terlalu cepat ketika tidak diperlukan, sehingga menghalangi pemakaian kalsium oleh tubuh.</p>
<p>Tanda-tanda :<br />
- Rasa sakit yang terus menerus, berlangung selama beberapa detik sampai beberapa jam.</p>
<p>Pertolongan :<br />
- Dengan merenggangkan otot tersebut, bila kejang dibetis, berdiri dengan bertumpu pada jari kaki atau mendorong bagian depan kaki ke atas dan memijit otot yang kejang kearah jantung.<br />
- Bila yang menderita kejang adalah otot lengan atas depan, pijitlah otot tersebut dengan satu tangan dan mintalah bantuan teman anda untuk meluruskan siku tersebut.<br />
 <br />
<strong>3.Terkilir (Reptura Tendo)</strong><br />
Yaitu terlepasnya tendo dari tulang/otot (Tendo adalah penghubung antara tulang/sendi).<br />
Tanda-tanda :<br />
- Seseorang yang menderita reptura tendo atau terkilir biasanya terdengar suaranya.<br />
- Rasa sakit yang hebat sehingga orang tersebut menggeliat kesakitan dan memegang otot tersebut dalam posisi konstraksi.<br />
- Ia tidak akan membiarkan otot tersebut digerakkan, bahkan biasanya tidak akan mau diperiksa, kecuali bila telah menerima obat penghilang rasa sakit.<br />
- Membengkak sakit selama beberapa hari dan timbul tanda biru/hitam.</p>
<p>Penyebab :<br />
- Konstraksi otot yang kuat yang terjadi dengan tiba-tiba.<br />
- Otot yang tegang dan tidak fleksibel mudah menderita reptura tendo.</p>
<p>Pertolongan :<br />
- Rest : istirahat<br />
- Ice : pendinginan<br />
- Compression : penekanan<br />
- Elevation : pendinginan bagian tubuh yang cidera<br />
- Segera hubungi dokter<br />
 <br />
<strong>4.Dislokasi (sendi meleset)</strong><br />
Yaitu terlepasnya sendi dari tempat yang seharusnya.<br />
Dislokasi sendi rahang<br />
Penyebab :<br />
- Menguap atau tertawa terlalu lebar<br />
- Terkena pukulan keras ketika rahang sedang terbuka.</p>
<p>Pertolongan :<br />
- Mempergunakan ibu jari yang ditekankan ke rahang, ibu hari sebelumnya dibalut terlebih dahulu.<br />
Caranya, rahang tersebut ditekankan kebawah dengan kedua ibu jari tersebut diletakkan digeraham yang paling belakang, tekanan harus mantap tetapi pelan-pelan, bersamaan dengan penekanan tersebut, jari-jari yang lain mengangkat dagu penderita keatas.</p>
<p>Dislokasi sendi bahu<br />
Pertolongan :<br />
- Perhatikan apakah ada patah tulang.<br />
- Apabila tidak ada, cedera ditekan dengan telapak tangan/kaki. Sementara itu lengan penderita ditarik sesuai dengan arah kedudukan ketika itu, tarikan harus dilakukan dengan pelan dan semakin lama dan semakin kuat, kemudian dengan hati-hati lengan atas diputar (arah jauhi tubuh) hal ini sebaiknya dilakukan dengan siku berlipat. Dengan cara ini diharapkan ujung lengan atas akan menggeser kembli ketempat semula.</p>
<p>Dislokasi sendi paha (pinggul)<br />
Penyebab :<br />
- Lutut membentur, paha terdorong kebelakang dan terlepas dari sendinya.</p>
<p>Tanda-tanda :<br />
- Lutut terputar kedalam, paha terkunci mendekati garis tengah tubuh, bila digerakkan terasa nyeri.<br />
Usahakan jangan digerakkan, bawa segera ke rumah sakit.<br />
 <br />
<strong>5.Patah Tulang</strong><br />
a. Patah tulang stress<br />
Tanda-tanda :<br />
- Tidak tampak<br />
- Sakit bila ditekan dari atas dan dari bawah.<br />
- Sakit ringan dan semakin sakit bila terus digunakan.<br />
Penyebab :<br />
- Kaki yang mempunyai lengkungan yang tinggi, sehingga sebagian besar gaya langkah terpusatkan pada tulang dan kaki.</p>
<p>Pertolongan :<br />
- Istirahatkan bagian tubuh yang sakit.<br />
 <br />
b. Patah tulang komplet<br />
Tanda-tanda :<br />
- Rasa sakit yang hebat disertai dengan pembengkakan.<br />
- Bila memutuskan pembuluh darah darah dapat mengakibatkan pendarahan.<br />
 <br />
Penyebab :<br />
- Kekerasan dari luar, terpukul benda-benda keras, tertembak terjatuh dan sebagainya.<br />
 <br />
Pertolongan :<br />
- Mencegah pendarahan<br />
- Mencegah gugat<br />
- Mencegah rasa nyeri<br />
- Mencegah infeksi<br />
- Pembalutan/pembidaian.<br />
 <br />
<strong>6.Perdarahan Pembuluh Nadi</strong><br />
Tanda-tanda :<br />
Darah keluar menyembur sesuai dengan denyut jantung, darah yang keluar berwarna merah segar.<br />
 <br />
Pertolongan :<br />
- Menekan ditempat perdarahan dengan kain, setelah luka dibersihkan.<br />
- Usahakan bagian yang mengalami perdarahan lebih tinggi dari letak.<br />
- Jika belum berhasil, hentikan perdarahan dengan memijit pembuluh nadi (arteri) antara luka dengan jantung (diatas posisi luka)<br />
- Dengan memasang touniquet (dikendorkan tiap 15 menit)<br />
 <br />
<strong>7.Keracunan</strong><br />
Racun bisa masuk ketubuh melalui :<br />
a. Pernafasan<br />
Tanda-tanda :<br />
- Banyak keluar air liur dan air mata<br />
- Batuk-batuk<br />
- Warna muka merah<br />
 <br />
Pertolongan :<br />
- Bawa secepatnya ketampat yang bebas gari gas beracun tersebut.<br />
- Tidurkan terlentang dan beri selimut.<br />
- Bila perlu beri penafasan buatan jangan dari mulut ke mulut.<br />
- Segera bawa ke rumah sakit<br />
b. Melalui kulit<br />
Pertolongan :<br />
- Pakaian yang terkena racun dilepas<br />
- Bagian tubuh yang terkena racun disiram dengan air dingin terus menerus.<br />
 <br />
c. Melalui makanan<br />
Keracunan Botulinum (banyak dijumpai pada makanan dalam kaleng)<br />
Gejala :<br />
- Muncul secara mendadak 18-36 jam sesudah memakan makanan tersebut<br />
- Lemah badan, disusul penglihatan kabur dan ganda.<br />
- Penderita mengalami kesulitan berbicara dan susah menelan.</p>
<p>Pertolongan :<br />
- Hanya dapat diberikan di rumah sakit dengan menyuntikkan serum antitoksin khusus untuk Botulinum.</p>
<p>Pencegahan :<br />
- Sebelum dihidangkan, makanan dalam kaleng dibuka kemudian direbus bersama kalengnya didalam air sampai mendidih.<br />
 <br />
Keracunan jamur<br />
Gejala :<br />
- Muncul dalam jarak beberapa menit sampai 2 jam sesudah makan jamur beracun tersebut.<br />
- Sakit perut yang hebat, mencret.<br />
- Banyak berkeringat<br />
- Mental kacau<br />
- Pingsan<br />
Pertolongan :<br />
- Usahakan agar muntah<br />
- Bilas lambung<br />
- Bila perlu berikan pernafasan buatan.</p>
<p>Sumber : Dari Berbagai Sumber</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.petualangan.com/2008/09/pertolongan-pertama-pada-kecelakaan-p3k/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Navigasi Darat</title>
		<link>http://www.petualangan.com/2008/09/navigasi-darat/</link>
		<comments>http://www.petualangan.com/2008/09/navigasi-darat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 12:47:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jelajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[Navigasi Darat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.petualangan.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Navigasi darat merupakan ilmu praktis. Kemampuan bernavigasi dapat terasah jika sering berlatih. Pemahaman teori dan konsep hanyalah faktor yang membantu, dan tidak menjamin jika mengetahui teorinya secara lengkap, maka kemampuan navigasinya menjadi tinggi.
Dalam mendaki naik gunung, ada pengetahuan dasar khususnya menyangkut navigasi darat atau peta-kompas yang harus dimiliki seorang pendaki. Peralatan navigasi standar yang harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Navigasi darat</strong> merupakan ilmu praktis. Kemampuan bernavigasi dapat terasah jika sering berlatih. Pemahaman teori dan konsep hanyalah faktor yang membantu, dan tidak menjamin jika mengetahui teorinya secara lengkap, maka kemampuan navigasinya menjadi tinggi.</p>
<p>Dalam mendaki naik gunung, ada pengetahuan dasar khususnya menyangkut navigasi darat atau peta-kompas yang harus dimiliki seorang pendaki. Peralatan navigasi standar yang harus dibawa saat mendaki gunung adalah peta, kompas, dan altimeter. Dalam arti populer, peta adalah representasi bentuk bentang bumi yang dicetak di kertas.</p>
<p><span id="more-70"></span>Peta sendiri ada banyak ragamnya, sesuai keperluan. Namun peta yang bermanfaat bagi pendaki gunung adalah topografi, peta yang menggambarkan bentuk-bentuk dan kondisi permukaan bumi. Dalam melihat peta, perhatikan skala atau perbandingan jarak dengan jarak sebenarnya. Skala peta dapat ditunjukkan dalam angka (misalnya 1:250.000) atau dalam bentuk garis. Untuk itu, jangan menggunakan fotokopi peta yang diperbesar atau diperkecil ukurannya.</p>
<p>Selain membingungkan penghitungan jarak, pembesaran peta tidak menunjukkan akurasi relief bumi. Ada baiknya, pendaki lebih dahulu mempelajari makna le-genda (simbol konvensional) dan kontur-garis penunjuk relief bumi-yang ada di peta. Penjelasan legenda selalu ada di bagian bawah peta. Dengan membaca kontur, dapat dibayangkan kondisi medan sebenarnya. Garis-garis kontur bersisian rapat menunjukkan medan yang curam, bila jarang berarti medannya landai.</p>
<p>Lengkungan kontur yang menonjol keluar dari sebuah titik, menggambarkan punggung bukit atau gunung (ridge), sebaliknya adalah lembah. Di lembah-lembah seperti itu biasanya ada aliran sungai. Ditambah kompas, peta merupakan alat untuk dapat menentukan posisi pendaki di gunung atau menunjukkan arah jalan. Teknik menggunakan variasi kompas dan peta dikenal dengan cross bearing, terbagi dalam resection (menentukan posisi kita di dalam peta) dan intersection (menentukan posisi satu tempat di peta).</p>
<p>Resection dilakukan dengan mula-mula mencari dua titik di medan sebenarnya yang dapat diidentifikasi dalam peta seperti puncak-puncak gunung. Kedua, hitunglah sudut (azimuth) kedua obyek tadi terhadap arah utara dengan kompas. Ketiga, pindahlah ke peta. Dengan menggunakan busur derajat, letakkan titik pusat busur derajat menghimpit titik identifikasi obyek dalam peta. Bila sudut azimuth yang diperoleh kurang dari 180 derajat, tambahkan azimuth itu dengan angka 180 derajat. Bila azimuth yang didapat dari kompas lebih dari 180 derajat, tambahkan dengan angka 180 derajat. Keempat, gunakan angka hasil perhitungan itu (dinamakan teknik back azimuth) untuk membuat garis lurus dari titik identifikasi. Perpotongan dua garis dari dua titik identifikasi menunjukkan letak kita di dalam peta.</p>
<p>Menentukan titik awal perjalanan di peta merupakan hal yang penting. Di tengah perjalanan, seorang pendaki kerap tidak dapat memainkan teknik cross bearing karena faktor cuaca atau medan yang tidak memungkinkan melihat titik-titik orientasi. Bila demikian, membandingkan keadaan medan sekitar dengan kontur peta dan merunutnya dari titik awal perjalanan, kadang menjadi satu-satunya cara menentukan posisi. Dalam keadaan seperti itu, altimeter atau piranti penunjuk ketinggian sangat dibutuhkan.</p>
<p>Saat ini fungsi kompas dan altimeter dapat diganti dengan GPS (Global Positioning System/piranti canggih menggunakan sinyal satelit). Dengan alat itu, pendaki dapat mengetahui kedudukannya dalam lintang dan bujur (koordinat) bumi. Pemakainya tinggal mencari besaran koordinat di peta. Bahkan GPS model mutakhir dapat menyimpan rekaman gambar peta melalui CD-Rom. Dengan begitu, pendaki bisa mengabaikan peta karena peta sekaligus tersaji di layar monitornya. Bisa juga menggunakan jam tangan keluaran suunto dan casio yang ada fitur altimeter, barometer dan kompas.</p>
<p><strong>Peta</strong><br />
Peta adalah penggambaran dua dimensi (pada bidang datar) dari sebagian atau keseluruhan permukaan bumi yang dilihat dari atas, kemudian diperbesar atau diperkecil dengan perbandingan tertentu. Dalam navigasi darat digunakan peta topografi. Peta ini memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis kontur.</p>
<p>Beberapa unsur yang bisa dilihat dalam peta :</p>
<ul>
<li>udul peta; biasanya terdapat di atas, menunjukkan letak peta</li>
<li>Nomor peta; selain sebagai nomor registrasi dari badan pembuat, kita bisa menggunakannya sebagai petunjuk jika kelak kita akan mencari sebuah peta</li>
<li>Koordinat peta; penjelasannya dapat dilihat dalam sub berikutnya</li>
<li>Kontur; adalah merupakan garis khayal yang menghubungkan titik titik yang berketinggian sama diatas permukaan laut.</li>
<li>Skala peta; adalah perbandingan antara jarak peta dan jarak horizontal dilapangan. Ada dua macam skala yakni skala angka (ditunjukkan dalam angka, misalkan 1:25.000, satu senti dipeta sama dengan 25.000 cm atau 250 meter di keadaan yang sebenarnya), dan skala garis (biasanya di peta skala garis berada dibawah skala angka).</li>
<li>Legenda peta, adalah simbol-simbol yang dipakai dalam peta tersebut dibuat untuk memudahkan  pembaca menganalisa peta.</li>
</ul>
<p>Di Indonesia, peta yang lazim digunakan adalah peta keluaran Direktorat Geologi Bandung, lalu peta dari Jawatan Topologi, yang sering disebut sebagai peta AMS (American Map Service) dibuat oleh Amerika dan rata-rata dikeluarkan pada tahun 1960. Peta AMS biasanya berskala 1:50.000 dengan interval kontur (jarak antar kontur) 25 m. Selain itu ada peta keluaran Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) yang lebih baru, dengan skala 1:50.000 atau 1:25.000 (dengan interval kontur 12,5m). Peta keluaran Bakosurtanal biasanya berwarna.</p>
<p><strong>Koordinat</strong><br />
Peta Topografi selalu dibagi dalam kotak-kotak untuk membantu menentukan posisi dipeta dalam hitungan koordinat. Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Secara teori, koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yakni perpotongan antara garis-garis yang tegak lurus satu sama lain.</p>
<p>Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua macam yaitu :</p>
<ul>
<li>Koordinat Geografis (Geographical Coordinate)<br />
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus dengan garis khatulistiwa, dan garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit dan detik. Pada peta Bakosurtanal, biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama. Pada peta ini, satu kotak (atau sering disebut satu karvak) lebarnya adalah 3.7 cm. Pada skala 1:25.000, satu karvak sama dengan 30 detik (30&#8243;), dan pada peta skala 1:50.000, satu karvak sama dengan 1 menit (60&#8243;).</li>
<li>Koordinat Grid (Grid Coordinate atau UTM)<br />
Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak setiap titik acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan berada disebelah barat Jakarta (60 LU, 980 BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke timur. Sistem koordinat mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat grid. Satu karvak sebanding dengan 2 cm. Karena itu untuk penentuan koordinat koordinat grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian (per 2 mm). Sedangkan penentuan koordinat grid 8 angka dibagi menjadi sepuluh bagian (per 1mm).</li>
</ul>
<p><strong>Analisa Peta</strong><br />
Salah satu faktor yang sangat penting dalam navigasi darat adalah analisa peta. Dengan satu peta, kita diharapkan dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang keadaan medan sebenarnya, meskipun kita belum pernah mendatangi daerah di peta tersebut.</p>
<ul>
<li>Unsur dasar peta<br />
Untuk dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya, pertama kali kita harus cek informasi dasar di peta tersebut, seperti judul peta, tahun peta itu dibuat, legenda peta dan sebagainya. Disamping itu juga bisa dianalisa ketinggian suatu titik (berdasarkan pemahaman tentang kontur), sehingga bisa diperkirakan cuaca, dan vegetasinya.</li>
<li>Mengenal tanda medan<br />
Disamping tanda pengenal yang terdapat dalam legenda peta, kita dapat menganalisa peta topografi  berdasarkan bentuk kontur. Beberapa ciri kontur yang perlu dipahami sebelum menganalisa tanda  medan :</li>
</ul>
<p>Antara garis kontur satu dengan yang lainnya tidak pernah saling berpotongan Garis yang berketinggian lebih rendah selalu mengelilingi garis yang berketinggian lebih tinggi, kecuali diberi keterangan secara khusus, misalnya kawah. Beda ketinggian antar kontur adalah tetap meskipun kerapatan berubah-ubah  Daerah datar mempunyai kontur jarang-jarang sedangkan daerah terjal mempunyai kontur rapat.</p>
<p>Beberapa tanda medan yang dapat dikenal dalam peta topografi :</p>
<ul>
<li>Puncak bukit atau gunung biasanya berbentuk lingkaran kecil, tertelak ditengah-tengah lingkaran kontur lainnya.</li>
<li>Punggungan terlihat sebagai rangkaian kontur berbentuk U yang ujungnya melengkung menjauhi puncak</li>
<li>Lembahan terlihat sebagai rangkaian kontur berbentuk V yang ujungnya tajam menjorok kepuncak. Kontur lembahan biasanya rapat.</li>
<li>Saddle, daerah rendah dan sempit diantara dua ketinggian</li>
<li>Pass, merupakan celah memanjang yang membelah suatu ketinggian</li>
<li>Sungai, terlihat dipeta sebagai garis yang memotong rangkaian kontur, biasanya ada di lembahan, dan namanya tertera mengikuti alur sungai. Dalam membaca alur sungai ini harap diperhatikan lembahan curam, kelokan-kelokan dan arah aliran.</li>
<li>Bila peta daerah pantai, muara sungai merupakan tanda medan yang sangat jelas, begitu pula pulau-pulau kecil, tanjung dan teluk</li>
</ul>
<p>Pengertian akan tanda medan ini mutlak diperlukan, sebagai asumsi awal dalam menyusun perencanaan perjalanan diperlukan Kompas. Kompas adalah alat penunjuk arah, dan karena sifat magnetnya, jarumnya akan selalu menunjuk arah utara selatan (meskipun utara yang dimaksud disini bukan utara yang sebenarnya, tapi utara magnetis). Secara fisik, kompas terdiri dari :</p>
<ul>
<li>Badan, tempat komponen lainnya berada</li>
<li>Jarum, selalu menunjuk arah utara selatan, dengan catatan tidak dekat dengan megnet lain/tidak dipengaruhi medan magnet, dan pergerakan jarum tidak terganggu/peta dalam posisi horizontal.</li>
<li>Skala penunjuk, merupakan pembagian derajat sistem mata angin.</li>
<li>Jenis kompas yang biasa digunakan dalam navigasi darat ada dua macam yakni kompas bidik (misal kompas prisma) dan kompas orienteering (misal kompas silva, suunto dll). Untuk membidik suatu titik, kompas bidik jika digunakan secara benar lebih akurat dari kompas silva. Namun untuk pergerakan dan kemudahan ploting peta, kompas orienteering lebih handal dan efisien.</li>
</ul>
<p>Dalam memilih kompas, harus berdasarkan penggunaannya. Namun secara umum, kompas yang baik adalah kompas yang jarumnya dapat menunjukkan arah utara secara konsisten dan tidak bergoyang-goyang dalam waktu lama. Bahan dari badan kompas pun perlu diperhatikan harus dari bahan yang kuat/tahan banting mengingat kompas merupakan salah satu unsur vital dalam navigasi darat</p>
<p><strong>Orientasi Peta</strong><br />
Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya ( atau dengan kata lain menyamakan utara peta dengan utara sebenarnya). Sebelum anda mulai orientasi peta, usahakan untuk mengenal dulu tanda-tanda medan sekitar yang menyolok dan posisinya di peta. Hal ini dapat dilakukan dengan pencocokan nama puncakan, nama sungai, desa dll. Jadi minimal anda tahu secara kasar posisi anda dimana.</p>
<p>Orientasi peta ini hanya berfungsi untuk meyakinkan anda bahwa perkiraan posisi anda dipeta adalah benar. Langkah-langkah orientasi peta :</p>
<ul>
<li>Usahakan untuk mencari tempat yang berpemandangan terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang menyolok.</li>
<li>Siapkan kompas dan peta anda, letakkan pada bidang datar</li>
<li>Utarakan peta, dengan berpatokan pada kompas, sehingga arah peta sesuai dengan arah medan sebenarnya</li>
<li>Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol disekitar anda, dan temukan tanda-tanda medan tersebut di peta. Lakukan hal ini untuk beberapa tanda medan</li>
<li>Ingat tanda-tanda itu, bentuknya dan tempatnya di medan yang sebenarnya. Ingat hal-hal khas dari tanda medan.</li>
</ul>
<p>Jika anda sudah lakukan itu semua, maka anda sudah mempunyai perkiraan secara kasar, dimana posisi anda di peta. Untuk memastikan posisi anda secara akurat, dipakailah metode resection.</p>
<p><strong>Resection</strong><br />
Resection adalah menentukan posisi kita dipeta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik ini paling tidak membutuhkan dua tanda medan yang terlihat jelas dan dapat dibidik (untuk latihan resection biasanya dilakukan dimedan terbuka seperti kebon teh misalnya, agar tanda medan yang ekstrim terlihat dengan jelas). Tidak setiap tanda medan harus dibidik, minimal dua, tapi posisinya sudah pasti.</p>
<p>Langkah-langkah melakukan resection :</p>
<ul>
<li>Lakukan orientasi peta</li>
<li>Cari tanda medan yang mudah dikenali di lapangan dan di peta, minimal 2 buah</li>
<li>Dengan busur dan penggaris, buat salib sumbu pada tanda-tanda medan tersebut (untuk alat tulis paling ideal menggunakan pensil mekanik).</li>
<li>Bidik tanda-tanda medan tersebut dari posisi kita dengan menggunakan kompas bidik. Kompas orienteering dapat digunakan, namun kurang akurat.</li>
<li>Pindahkan sudut bidikan yang didapat ke peta dan hitung sudut pelurusnya. Lakukan ini pada setiap tanda medan yang dijadikan sebagai titik acuan.</li>
<li>Perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita dipeta.</li>
</ul>
<p><strong>Intersection</strong><br />
Intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali di lapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan tetapi sukar untuk dicapai. Sebelum intersection kita sudah harus yakin terlebih dahulu posisi kita dipeta. Biasanya sebelum intersection, kita sudah melakukan resection terlebih dahulu.</p>
<p>Langkah-langkah melakukan intersection adalah:</p>
<ul>
<li>Lakukan orientasi peta</li>
<li>Lakukan resection untuk memastikan posisi kita di peta.</li>
<li>Bidik obyek yang kita amati</li>
<li>Pindahkan sudut yang didapat ke dalam peta</li>
<li>Bergerak ke posisi lain dan pastikan posisi tersebut di peta. Lakukan langkah 1-3</li>
<li>Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek yang dimaksud.</li>
</ul>
<p>Peralatan yang dibutuhkan :</p>
<ul>
<li>Kompas bidik atau prisma</li>
<li>Conector</li>
<li>Peta Topografi</li>
<li>Pensil</li>
<li>Penggaris</li>
<li>Spidol warna</li>
</ul>
<p><strong>Azimuth &#8211; Back Azimuth</strong><br />
Azimuth adalah sudut antara satu titik dengan arah utara dari seorang pengamat. Azimuth disebut juga sudut kompas. Jika anda membidik sebuah tanda medan, dan memperolah sudutnya, maka sudut itu juga bisa dinamakan sebagai azimuth. Kebalikannya adalah back azimuth.</p>
<p>Dalam resection back azimuth diperoleh dengan cara:</p>
<ul>
<li>Jika azimuth yang kita peroleh lebih dari 180º maka back azimuth sama dengan azimuth dikurangi 180º.  Misal anda membidik tanda medan, diperoleh azimuth 200º. Back azimuthnya adalah 200º- 180º = 20º</li>
<li>Jika azimuth yang kita peroleh kurang dari 180º, maka back azimuthnya dama dengan 180º ditambah azimuth. Misalkan, dari bidikan terhadap sebuah puncak, seiperoleh azimuth 160º, maka back  azimuthnya adalah 180º+160º = 340º</li>
</ul>
<p>Dengan mengetahui azimuth dan back azimuth ini, memudahkan kita untuk dapat melakukan ploting peta (penarikan garis lurus di peta berdasarkan sudut bidikan). Selain itu sudut kompas dan back azimuth ini dipakai dalam metode pergerakan sudut kompas (lurus/ man to man). Prinsipnya membuat lintasan berada pada satu garis lurus dengan cara membidikaan kompas ke depan dan ke belakang pada jarak tertentu.</p>
<p>Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Titik awal dan titik akhir perjalanan di plot di peta, tarik garis lurus dan hitung sudut yang menjadi arah perjalanan (sudut kompas). Hitung pula sudut dari titik akhir ke titik awal. Sudut ini dinamakan back azimuth.</li>
<li>Perhatikan tanda medan yang menyolok pada titik awal perjalanan.</li>
<li>Perhatikan tanda medan lain pada lintasan yang dilalui.</li>
<li>Bidikkan kompas seusai dengan arah perjalanan kita, dan tentukan tanda medan lain di ujung lintasan/titik bidik. Sudut bidikan ini dinamakan azimuth.</li>
<li>Pergi ke tanda medan di ujung lintasan, dan bidik kembali ke titik pertama tadi, untuk mengecek apakah arah perjalanan sudah sesuai dengan sudut kompas (back azimuth).</li>
<li>Sering terjadi tidak ada benda/tanda medan tertentu yang dapat dijadikan sebagai sasaran. Untuk itu dapat dibantu oleh seorang rekan sebagai tanda. Sistem pergerakan semacam ini sering disebut sebagai sistem man to man.</li>
</ul>
<p><strong>Merencanakan Jalur Lintasan</strong><br />
Dalam navigasi darat tingkat lanjut, kita diharapkan dapat menyusun perencanaan jalur lintasan dalam sebuah medan perjalanan. Sebagai contoh anda misalnya ingin pergi ke gunung Semeru, tapi dengan menggunakan jalur sendiri. Penyusunan jalur ini dibutuhkan kepekaan yang tinggi, dalam menafsirkan sebuah peta topografi, mengumpulkan data dan informasi dan mengolahnya sehingga anda dapat menyusun sebuah perencanaan perjalanan yang matang. Dalam proses perjalanan secara keseluruhan, mulai dari transportasi sampai pembiayaan, disini kita akan membahas khusus tentang perencanaan pembuatan medan lintasan.</p>
<p>Ada beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan sebelum anda memplot jalur lintasan. Pertama, anda harus membekali dulu kemampuan untuk membaca peta, kemampuan untuk menafsirkan tanda-tanda medan yang tertera di peta, dan kemampuan dasar navigasi darat lain seperti resection, intersection, azimuth back azimuth, pengetahuan tentang peta kompas, dan sebagainya, minimal sebagaimana yang tercantum dalam bagian sebelum ini.</p>
<p>Kedua, selain informasi yang tertera dipeta, akan lebih membantu dalam perencanaan jika anda punya informasi tambahan lain tentang medan lintasan yang akan anda plot. Misalnya keterangan rekan yang pernah melewati medan tersebut, kondisi medan, vegetasi dan airnya. Semakin banyak informasi awal yang anda dapat, semakin matang rencana anda.</p>
<p>Tentang jalurnya sendiri, ada beberapa macam jalur lintasan yang akan kita buat. Pertama adalah tipe garis lurus, yakni jalur lintasan berupa garis yang ditarik lurus antara titik awal dan titik akhir. Kedua, tipe garis lurus dengan titik belok, yakni jalur lintasan masih berupa garis lurus, tapi lebih fleksibel karena pada titik-titik tertentu kita berbelok dengan menyesuaian kondisi medan. Yang ketiga dengan guide/patokan tanda medan tertentu, misalnya guide punggungan/guide lembahan/guide sungai. Jalur ini lebih fleksibel karena tidak lurus benar, tapi menyesuaikan kondisi medan, dengan tetap berpatokan tanda medan tertentu sebagai petokan pergerakannya.</p>
<p>Untuk membuat jalur lintasan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :</p>
<ul>
<li>Usahakan titik awal dan titik akhir adalah tanda medan yang ekstrim, dan memungkinkan untuk resection dari titik-titik tersebut.</li>
<li>Titik awal harus mudah dicapai/gampang aksesnya</li>
<li>Disepanjang jalur lintasan harus ada tanda medan yang memadai untuk dijadikan sebagai patokan, sehingga dalam perjalanan nanti anda dapat menentukan posisi anda di peta sesering mungkin.</li>
<li>Dalam menentukan jalur lintasan, perhatikan kebutuhan air, kecepatan pergerakan vegetasi yang berada dijalur lintasan, serta kondisi medan lintasan. Anda harus bisa memperkirakan hari ke berapa akan menemukan air, hari ke berapa medannya berupa tanjakan terjal dan sebagainya.</li>
<li>Mengingat banyaknya faktor yang perlu diperhatikan, usahakan untuk selalu berdiskusi dengan regu atau dengan orang yang sudah pernah melewati jalur tersebut sehingga resiko bisa diminimalkan.</li>
</ul>
<p><strong>Penampang Lintasan</strong><br />
Penampang lintasan adalah penggambaran secara proporsional bentuk jalur lintasan jika dilihat dari samping, dengan menggunakan garis kontur sebagai acuan.. Sebagaimana kita ketahui bahwa peta topografi yang dua dimensi, dan sudut pendangnya dari atas, agak sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana bentuk medan lintasan yang sebenarnya, terutama menyangkut ketinggian. Dalam kontur yang kerapatannya sedemikian rupa, bagaimana kira-kira bentuk di medan sebenarnya. Untuk memudahkan kita menggambarkan bentuk medan dari peta topografi yang ada, maka dibuatlah penampang lintasan.</p>
<p>Beberapa manfaat penampang lintasan :</p>
<ul>
<li>Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun perencanaan perjalanan</li>
<li>Memudahkan kita untuk menggambarkan kondisi keterjalan dan kecuraman medan</li>
<li>Dapat mengetahui titik-titik ketinggian dan jarak dari tanda medan tertentu</li>
</ul>
<p>Untuk menyusun penampang lintasan biasanya menggunakan kertas milimeter block, guna menambah akurasi penerjemahan dari peta topografi ke penampang. Langkah-langkah membuat penampang lintasan:</p>
<ul>
<li>Siapkan peta yang sudah diplot, kertas milimeter blok, pensil mekanik/pensil biasa yang runcing,   penggaris dan penghapus</li>
<li>Buatlah sumbu x, dan y. sumbu x mewakili jarak, dengan satuan rata-rata jarak dari lintasan yang anda buat. Misal meter atau kilometer. Sumbu y mewakili ketinggian, dengan satuan mdpl (meter diatas permukaan laut). Angkanya bisa dimulai dari titik terendah atau dibawahnya dan diakhiri titik tertinggi atau diatasnya.</li>
<li>Tempatkan titik awal di sumbu x=0 dan sumbu y sesuai dengan ketinggian titik tersebut. Lalu pada perubahan kontur berikutnya, buatlah satu titik lagi, dengan jarak dan ketinggian sesuai dengan perubahan kontur pada jalur yang sudah anda buat. Demikian seterusnya hingga titik akhir.</li>
<li>Perubahan satu kontur diwakili oleh satu titik. Titik-titik tersebut dihubungkan sat sama lainnya hingga membentuk penampang berupa garis menanjak, turun dan mendatar.</li>
<li>Tambahkan keterangan pada tanda-tanda medan tertentu, misalkan nama-nama sungai, puncakan dan titik-titik aktivitas anda (biasanya berupa titik bivak dan titik istirahat), ataupun tanda medan lainnya. Tambahan informasi tentang vegetasi pada setiap lintasan, dan skala penampang akan lebih membantu pembaca dalam menggunakan penampang yang telah dibuat.</li>
</ul>
<p>Sumber : Dari Berbagai Sumber</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.petualangan.com/2008/09/navigasi-darat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendaki Gunung</title>
		<link>http://www.petualangan.com/2008/09/mendaki-gunung/</link>
		<comments>http://www.petualangan.com/2008/09/mendaki-gunung/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 08:21:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jelajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gunung Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.petualangan.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Mendaki gunung diperlukan persiapan yang cukup. Seringkali kegiatan latihan fisik tidak disiapkan dengan baik.  Dalam mendaki gunung ditentukan oleh faktor ekstern dan intern. Kebugaran fisik mutlak diperlukan.
Pendaki gunung legendaris asal Inggris, Sir George Leigh Mallory, kerap menjawab pendek pertanyaan mengapa ia begitu &#8220;tergila-gila&#8221; naik gunung. &#8220;Because it is there,&#8221; ujarnya. Jawaban itu menggambarkan betapa luas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mendaki gunung diperlukan persiapan yang cukup. Seringkali kegiatan latihan fisik tidak disiapkan dengan baik.  Dalam mendaki gunung ditentukan oleh faktor ekstern dan intern. Kebugaran fisik mutlak diperlukan.</p>
<p>Pendaki gunung legendaris asal Inggris, Sir George Leigh Mallory, kerap menjawab pendek pertanyaan mengapa ia begitu &#8220;tergila-gila&#8221; naik gunung. &#8220;Because it is there,&#8221; ujarnya. Jawaban itu menggambarkan betapa luas pengalamannya mendaki gunung dan bertualang.<br />
<span id="more-53"></span><br />
Selain jawaban itu, masih banyak alasan mengapa seseorang mendaki gunung atau menggeluti kegiatan petualangan lainnya. Mereka punya alasan lebih panjang dari Mallory. Dalam halaman awal buku pegangan petualangan yang dimiliki seluruh anggotanya tertulis, &#8220;Nasionalisme tidak dapat tumbuh dari slogan atau indoktrinasi. Cinta tanah air hanya tumbuh dari melihat langsung alam dan masyarakatnya. Untuk itulah kami naik gunung&#8221;.</p>
<p>Yang jelas, tidak seorang petualang alam-komunitas di Indonesia lebih senang menggunakan istilah pencinta alam-melakukan kegiatan itu dengan alasan untuk gagah-gagahan. Karena bukan untuk gagah-gagahan, maka sebaiknya tidak ada istilah &#8220;modal nekad&#8221; dalam mendaki gunung.</p>
<p>Bagaimanapun, gunung dengan rimba liarnya, tebing terjal, udara dingin, kencangnya angin yang membuat tulang ngilu, malam yang gelap dan kabut yang pekat bukanlah habitat manusia modern. Bahaya yang dikandung alam itu akan menjadi semakin besar bila pendaki gunung tidak membekali diri dengan peralatan, kekuatan fisik, pengetahuan tentang alam, dan navigasi yang baik. Tanpa persiapan yang baik, naik gunung tidak bermakna apa-apa.</p>
<p>Secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya pendakian gunung yaitu :</p>
<ol>
<li><strong>Faktor Ekstern</strong><br />
Faktor ekstern adalah faktor yang berasal dari luar diri pendaki. Cuaca, kondisi alam, gas beracun yang dikandung gunung dan sebagainya yang merupakan sifat dan bagian alam. Karena itu, bahaya yang mungkin timbul seperti angin badai, pohon tumbang, letusan gunung atau meruapnya gas beracun dikategorikan sebagai bahaya objektif (objective danger). Seringkali faktor itu berubah dengan cepat di luar dugaan manusia.Tidak ada seorang pendaki pun yang dapat mengatur bahaya objektif itu. Namun dia dapat menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan itu.</li>
<li><strong>Faktor Intern</strong><br />
Faktor yang berasal dari diri pendaki yang memncakup segala persiapan, dan kemampuannya faktor kedua ini yang berpengaruh pada sukses atau gagalnya mendaki gunung.</li>
</ol>
<p>Bila pendaki tidak mempersiapkan pendakian, maka dia hanya memperbesar bahaya subyektif. Misalnya, bahaya kedinginan karena pendaki tidak membawa jaket tebal atau tenda untuk melawan dinginnya udara dan kencangnya angin. Tidak bisa ditawar, mendaki gunung adalah kegiatan fisik berat. Karena itu, kebugaran fisik adalah hal mutlak. Untuk berjalan dan menarik badan dari rintangan dahan atau batu, otot tungkai dan tangan harus kuat.</p>
<p>Untuk menahan beban ransel, otot bahu harus kuat. Daya tahan (endurance) amat diperlukan karena dibutuhkan perjalanan berjam-jam hingga hitungan hari untuk bisa tiba di puncak. Bila tidak biasa berolahraga, calon pendaki sebaiknya melakukan jogging dua atau tiga kali seminggu, dilakukan dua hingga tiga minggu sebelum pendakian. Mulailah jogging tanpa memaksa diri, misalnya cukup 30 menit dengan lari-lari santai.</p>
<p>Tingkatkan waktu dan kecepatan jogging secara bertahap pada kesempatan berikutnya. Bila kegiatan itu terasa membosankan, dapat diselingi dengan berenang. Dua olahraga itu sangat bermanfaat meningkatkan endurance dan kapasitas maksimum paru-paru menyedot oksigen (Volume O2 maximum/VO2 max). Latihan push up, sit up, pull up sebaiknya juga dilakukan untuk memperkuat otot-otot.</p>
<p>Saking semangatnya, pendaki kerap kali ingin segera mencapai puncak, apalagi bila kegiatan itu dilakukan berkelompok. Persaingan untuk berjalan paling cepat, paling depan, dan menjadi orang pertama memijak puncak, sebaiknya ditinggalkan. Mendaki gunung yang baik justru melangkah perlahan dalam langkah-langkah kecil dan dalam irama tetap. Dengan berjalan seperti itu, pendaki dapat mengatur napas, dan menggunakan tenaga seefisien mungkin.</p>
<p>Bagaimanapun mendaki merupakan pekerjaan melelahkan. Selain itu, keindahan alam dan kebersamaan dalam rombongan, sering menggoda pendaki untuk banyak berhenti dan beristirahat di tengah jalan. Bila dituruti terus, bukan tidak mungkin pendakian malah gagal mencapai puncak. Karena itu, cobalah membuat target pendakian. Misalnya, harus berjalan nonstop selama satu jam, lalu istirahat 10 menit, kembali mendaki selama satu jam dan seterusnya. Lakukan hal ini hingga mencapai puncak atau hari telah sore untuk berkemah.</p>
<p>Pada medan perjalanan yang landai, target waktu seperti itu dapat diganti dengan target tempat. Caranya, tentukanlah titik-titik target di peta sebagai titik beristirahat.<br />
Buatlah jadwal rencana kegiatan sehingga waktu yang tersedia digunakan seefektif mungkin dalam bergiat di alam. Jadwal itu memungkinkan pendaki menghitung berapa banyak makanan, pakaian, peralatan harus dibawa, dan dana yang harus disiapkan. Jadwal itu antara lain mencakup keberangkatan, jadwal dan rute pendakian, kapan tiba di puncak, jadwal dan rute pulang, dan seterusnya.</p>
<p>Jadwal pendakian perhari dapat lebih dirinci dengan berapa jam jatah pendakian, pukul berapa dimulai dan kapan berhenti serta seterusnya. Untuk menghindari beban bawaan terlalu berat, hindari membawa barang-barang yang tidak perlu. Misalnya, cukup membawa baju dan celana tiga atau empat stel meski pendakian memerlukan waktu cukup lama. Satu stel pakaian dikenakan saat berangkat dari rumah hingga kaki gunung dan saat pulang. Satu stel sebagai baju lapangan saat mendaki.</p>
<p>Satu stel yang lain sebagai baju kering yang digunakan saat berkemah. Rain coat dan payung dapat dicoret dari barang bawaan bila telah membawa ponco. Bila telah membawa lilin, cukup membawa batu batere seperlunya untuk menyalakan senter dalam keadaan darurat. Piring dapat ditinggal di rumah karena wadah makanan dapat menggunakan rantang memasak atau cangkir.</p>
<p>Bila barang perlengkapan telah terkumpul, masukkan semua ke dalam ransel. Jangan biarkan ada sejumlah barang seperti cangkir atau sandal diikat di lua ransel. Selain tidak sedap dipandang, risiko hilang selama pendakian, amat besar. Meski demikian, ada beberapa barang yang ditolerir bila ditaruh di luar ransel dan diikat dengan tali webbing ransel. Misalnya, matras karet dan tiang tenda.</p>
<p>Namun, yakinkan, semua telah diikat dengan kencang. Menaruh barang di dalam ransel amat berbeda dengan cara memasukkan buku-buku pelajaran dalam daypack (ransel kecil yang biasa digunakan ke sekolah). Buku pelajaran, baju praktikum, kalkulator dapat kita cemplungkan begitu saja ke dalam daypack. Sebaliknya, barang-barang pendakian harus dimasukkan dalam ransel dengan aturan tertentu sehingga mengurangi rasa sakit saat memanggul dan menghindari ruang kosong dalam ransel.</p>
<p><strong>Prinsip pengepakan barang dalam ransel:</strong></p>
<ol>
<li>Letakkan barang ringan di bagian bawah dan barang berat di bagian atas.</li>
<li>Barang-barang yang diperlukan paling akhir (misalnya peralatan kemping dan tidur), ditaruh di bagian bawah dan barang yang sering dikeluar-masukkan (seperti jaket, jas hujan, botol air) di bagian atas.</li>
<li>Jangan biarkan ada ruang kosong dalam ransel. Contoh, manfaatkan bagian dalam panci sebagai tempat menyimpan beras. Untuk itu, langkah pertama mengepak perlengkapan pendakian adalah mengelompokkan barang menurut jenis, seperti:<br />
- Pakaian dan kantung tidur,<br />
- Alat memasak,<br />
- Tenda,<br />
- Makanan.</li>
</ol>
<p>Bungkus kelompok-kelompok barang itu dalam kantong-kantong plastik agar mudah dicari. Sebagian besar pendaki menganggap, mengepak barang merupakan seni tersendiri dan kerap mengasyikkan.</p>
<p><strong>Pengetahuan Dasar Pendaki Gunung</strong><br />
Dalam mendaki gunung atau menjelajah alam, pelaku juga harus memasak, makan, tidur, dan membersihkan diri. Semua dilakukan sendiri. Untuk itu, pendaki tidak dapat menghindari barang bawaan yang relatif banyak dan berat. Perlengkapan apa saja yang diperlukan untuk pendakian? Perlengkapan seorang pendaki berupa sepatu, baju dan celana, jaket, ponco atau rain coat, dan ransel.</p>
<p>Sepatu mendaki yang baik selain melindungi kaki dari luka, juga harus nyaman saat dipakai meski membawa beban berat di medan licin, berbatu-batu, dan curam. Jenis sepatu boot paling cocok untuk kegiatan ini, karena melindungi pergelangan hingga mata kaki dari kemungkinan terkilir. Pilihlah sol sepatu dengan kembang besar, ceruk yang dalam dan memiliki tumit. Sol seperti ini memungkinkan pemakai dapat mencengkeram permukaan meski kondisinya ekstrim (curam, licin, atau berbatu-batu).</p>
<p>Pakaian ideal saat mendaki di gunung tropis adalah yang relatif tebal dan menyerap keringat, celana yang tidak kaku dan ringan guna melindungi kaki dari goresan duri. Baju dari katun atau wool cukup ideal. Sayang bila telah basah, katun tidak mampu menghangatkan badan. Baju dari bahan sintetis semisal polyesters dan acrylics sedikit menyerap keringat tetapi cepat kering.</p>
<p>Sementara bahan nilon sebaiknya tidak digunakan karena tidak menyerap keringat sehingga keringat akan tetap menempel di badan. Sebaliknya, nylon amat baik menahan hujan, sehingga banyak digunakan sebagai ponco. Saat mendaki, hindari pemakaian pakaian berbahan jeans. Bahan ini sukar kering dan berat saat basah. Bila mendaki medan yang dirimbuni pepohonan atau semak tinggi, di mana terpaan angin tidak kencang, hindari mengenakan jaket saat berjalan. Selain menahan keringat menempel di badan, jaket juga membuat tubuh merasa gerah karena selama berjalan suhu tubuh meningkat akibat pembakaran zat makanan untuk menghasilkan energi.</p>
<p>Pada saat istirahat, di sela pendakian, pembakaran berkurang. Dinginnya temperatur di pegunungan dan hembusan angin maka pendaki akan menghadapi perbedaan drastis temperatur. Oleh karena itu, saat beristirahat, sebaiknya pendaki mengenakan jaket atau sweater tebal. Bila beristirahat saat hujan, sebaiknya mengganti baju jalan yang basah dengan baju kering. Jaket sebaiknya digunakan menahan dingin di puncak atau di lokasi kemping saat akitivitas tidak segiat saat berjalan. Pilihlah jaket yang berbahan isian (down jacket). Jaket jenis ini cukup tebal dan penahan dingin yang baik.</p>
<p>Kelemahannya, relatif berat dan memakan banyak tempat dalam ransel. Jaket lain sebaiknya dibawa adalah yang memiliki dua lapisan (double layer). Lapisan dalam biasanya berbahan penghangat dan menyerap keringat seperti wool atau polartex, sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan angin. Kini, teknologi tekstil sudah mampu memroduksi Gore-tex, bahan jaket yang nyaman dipakai saat mendaki. Bahan itu memungkinkan kulit tetap &#8220;bernapas&#8221;, tidak gerah, mengeluarkan uap keringat, mampu menahan angin (wind breaking) dan resapan air hujan (water proof). Sayang, bahan ini masih mahal, rata-rata berharga di atas Rp 1 juta.</p>
<p>Perlengkapan vital pendakian lainnya adalah ransel. Kini banyak jenis ransel-terutama berangka dalam-dijual di pasaran. Fungsi rangka selain menyangga badan ransel tetap tegak, mencegah barang di dalamnya bergeser, dan menjaga jarak antara punggung pemakai dari ransel. Akibatnya, barang-barang keras yang dibawa tidak menyakitkan. Ransel yang baik dilengkapi tali pengatur sabuk penggendok atau sandang bahu, sandang pinggang, atau sabuk pinggang. Sabuk dan tali pengatur itu akan membuat pemakainya nyaman memanggul ransel beserta isinya.</p>
<p>Bila pendaki ingin membawa barang bawaan ke bahu dan punggung, kencangkan tali pengatur sandang bahu dan longgarkan sabuk pinggang. Sebaliknya, bila beban ingin ditopang punggung dan pinggang, kencangkan tali sabuk pinggang dan kendorkan tali sandang bahu. Ransel berdisain baik, bila rangka bagian bawah, saat dipakai, ada di sekitar pinggang sedang lengkungan rangka atas sesuai lengkungan tulang punggung pemakai. Ransel yang memiliki beberapa kantung di penutup atau badan, memiliki banyak keuntungan.</p>
<p>Barang-barang kecil seperti botol air minum, jaket, atau kamera yang sering dikeluar-masukkan selama pendakian, dapat ditaruh di situ. Dengan demikian, pendaki tidak perlu membuka-tutup dan mengacak-acak isi ruang utama ransel.</p>
<p>Oleh karena itu, pilihlah ransel berbahan nilon atau kanvas. Nilon selain kedap air juga ringan. Sebaliknya, kanvas relatif berat terutama pada waktu basah. Akan tetapi, kanvas lebih kuat terhadap goresan</p>
<p><!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p><strong>Persiapan Mendaki Gunung </strong><br />
Persiapan umum untuk mendaki gunung antara lain kesiapan mental, fisik, etika, pengetahuan dan ketrampilan.</p>
<ol>
<li>Perencanaan pendakian</li>
</ol>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Hal hal yang perlu diperhatikan 	dlm perencanaan pendakian :</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Mengenali kemampuan diri dalam tim 	dalam menghadapi medan</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Mempelajari medan yang akan 	ditempuh</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Teliti rencana pendakian dan rute 	yang akan ditempuh secermat mungkin</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Pikirkan waktu yangdigunakan dalam 	pendakian</p>
</li>
<li>Periksa segala perlengkapan yang akan dibawa</li>
</ul>
<ol>
<li>Perlengkapan perjalanan</li>
</ol>
<ul>
<li>Perlengkapan dasar<br />
Perlengkapan jalan : sepatu , kaoskaki 	, celana , ikat pinggang , baju , topi , jas hujan dll<br />
Perlengkapan 	tidur : sleeping bag , tenda, matras dll<br />
Perlengkapan masak dan 	makan: kompor , sendok , makanan , korek dll<br />
Perlengkapan 	pribadi : jarum , benang , obat pribadi , sikat , toilet paper dll<br />
Ransel / carrier</li>
<li>Perlengkapan pembantu<br />
Kompas , senter , pisau pinggang , 	golok tebas , P3K, Peta , busur drajat ,pengaris , pensil, Alat 	komunikasi (Handy talky) , survival kit ,GPS, Jam tangan,dll.</li>
</ul>
<ol>
<li>Packing atau menyusun perlengkapan kedalam ransel</li>
</ol>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Kelompokkan barang barang sesuai 	dengan jenis jenisnya masukkan dalam kantong plastik</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Letakkan barang barang yang ringan 	dan jarang penggunananya (mis : Perlengkapan tidur) pada yang tempat 	paling dalam, barang barang yang sering digunakan dan vital letakkan 	sedekat mungkin dengan tubuh dan mudah diambil Tempatkan barang 	barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan / 	punggung.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Checklist barang barang tsb.</p>
</li>
</ul>
<p><!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>Macam-macam penyakit yang sering dihadapi oleh pendaki:</strong></p>
<ol>
<li>Hypotermia<br />
Adalah penurunan suhu tubuh secara tidak normal, dimana dikenal sebagai dingin penyebab kematian. Hypotermia tidak ada bedanya apakah terjadi di air,hutan atau puncak gunung. Statistik menunjukkan sebagian besar kasus ini justru terjadi pada suhu yang tidak terlampau dingin dan ini dianggap berbahaya (0-10 C).</p>
<p>Badan yang basah oleh keringat atau air hujan dan angin pada suhu tertentu dapat berakibat fatal dan dapat menyebabkan anda kehilangan banyak kalori.Pertolongan harus diberikan dalam 1 ½ jam setelah menggigil hebat. Bila tidak, siap-siaplah dijemput malaikat maut, wassalam.</li>
<li>Dehidrasi<br />
Kekurangan cairan dalam tubuh karena sinar matahari atau air yang masuk dalam tubuh berkurang atau banyak minum air berkadar garam tinggi sehingga cairan dalam tubuh tertarik keluar.</li>
<li>Sun Burn<br />
Terbakarnya kulit karena sinar sengatan matahari, biasanya pada tempat yang tinggi, lapisan udara tipis dan matahari mengandung ultraviolet yang membakar kulit</li>
</ol>
<p>Sumber : Dari berbagai sumber</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.petualangan.com/2008/09/mendaki-gunung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manajemen Perjalanan</title>
		<link>http://www.petualangan.com/2008/09/manajemen-perjalanan/</link>
		<comments>http://www.petualangan.com/2008/09/manajemen-perjalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 09:24:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jelajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.petualangan.com/web/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Ketika anda memutuskan untuk melakukan perjalanan dalam suatu kegiatan, tentu anda seharusnya mempersiapkan segala sesuatunya secara matang, baik personil, logistik, perlengkapan maupun pengetahuan medan .Ketika anda merencanakan untuk kegiatan keluar, tentu anda juga akan menyiapkan tim yang ideal dan solid menurut anda, dan anda tahu betul kemampuannya.
Perbekalan dan peralatan yang cukup juga situasi medan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika anda memutuskan untuk melakukan perjalanan dalam suatu kegiatan, tentu anda seharusnya mempersiapkan segala sesuatunya secara matang, baik personil, logistik, perlengkapan maupun pengetahuan medan .Ketika anda merencanakan untuk kegiatan keluar, tentu anda juga akan menyiapkan tim yang ideal dan solid menurut anda, dan anda tahu betul kemampuannya.</p>
<p><span id="more-42"></span>Perbekalan dan peralatan yang cukup juga situasi medan dan route yang akan anda lalui, kemudian anda siap untuk melakukan perjalanan. Bahaya tentu saja akan selalu ada baik itu dari anda dan tim anda yang menyangkut kesiapan perlengkapan dan peralatan tim maupun pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki tim dalam melakukan perjalanan.</p>
<p>Bahaya dari luar akan selalu ada, tergantung kesiapan tim dan kesolidan tim dalam menghadapinya. Mental akan sangat berpengaruh dalam perjalanan anda. Sejauh mana kemampuan leader dalam memimpin tim dan raspect tim terhadap leader dengan segala keputusannya. Bagaimana sesama anggota tim saling mendukung dan membantu satu sama lain.</p>
<p>Crash akan sangat mudah terjadi dalam perjalanan, mengingat kondisi tim yang lelah akibat perjalanan, yang akan sangat mempengaruhi emosi. Masalah kecil akan menjadi besar jika tidak diselesaikan secara bijaksana. Seperti halnya ketika dalam perjalanan menuju puncak, dan anda menemui persimpangan jalan dimana anggota tim masing-masing memiliki pendapat yang berbeda.</p>
<p>Disini peran leader sangat menentukan, bukan untuk membetulkan salah satu pihak dan menyalahkan pihak lainnya, tetapi bagaimana sang leader dapat menentukan pilihan yang tepat dengan alasan yang dapat diterima oleh seluruh anggota tim. Yang namanya tim, anda berangkat 5 orang maka yang 5 orang pula yang mencapai target anda, dan 5 orang pula yang kembali, idealnya. Bukannya karena ada anggota tim yang tidak sependapat maka ia ditinggalkan ataupun ia memutuskan untuk turun kembali, kecuali ada yang sakit.</p>
<p>Puncak tidak selalu menjadi target, Prestise tidak selalu menjadi nomor satu tetapi kekompakan dan keakraban yang utama. Bagaimana anggota tim saling berbagi beban, ataupun ketika ada anggota tim ada yang tidak menyukai salah satu jenis makanan. Anda tidak akan mendapat apa-apa ketika masing-masing anggota tim punya tujuan yang berbeda dan rasa yang berbeda.</p>
<p>Perjalanan anda akan menjadi hambar tampa arti. Siapkan tim anda satukan beban, asa dan rasa dengan semangat dan mental yang padu menempuh hujan dan badai sejauh tim anda berjalan, itulah puncak dari tim anda. Lanjutkan perjalanan yang masih panjang &#8230;</p>
<p><strong>PERSIAPAN</strong><br />
Untuk merencanakan suatu kegiatan ke alam bebas harus ada persiapan dan penyusunan secara matang. ada rumusan yang umum digunakan yaitu 4W &amp; 1 H, yang kepanjangannya adalah Where, Who, Why, When dan How. Berikut ini aplikasi dari rumusan tersebut :</p>
<ol>
<li>Where (Dimana), untuk melakukan suatu Kegiatan alam kita harus mengetahui dimana yang akan kita digunakan, Contoh: Pendakian Gunung Ungaran, Susur Gua Kiskendo Kendal.</li>
<li>Who (Siapa), apakah anda akan melakukan Kegiatan alam tersebut sendiri atau dengan berkelompok. Contoh: Satu Kelompok ( 25 Personil) Terdiri dari 5 Orang panitia dan 20 Orang peserta.</li>
<li>Why (Mengapa), ini adalah pertanyaan yang cukup panjang dan bisa bermacam-macam jawaban. Contoh : Untuk melakukan DIKSAR dan Petualangan.</li>
<li>When (Kapan) waktu pelaksanaan Kegiatan tersebut, berapa lama?<br />
Contoh: 10 November 2008 sampai dengan 20 Desember 2008</li>
<li>Untuk How/Bagaimana merupakan suatu pembahasan yang lebih komprehensif dari jawaban pertanyaan diatas ulasannya adalah sebagai berikut :<br />
• Bagaimana kondisi Tempat<br />
• Bagaimana cuaca disana<br />
• Bagaimana perizinannya<br />
• Bagaimana mendapatkan air<br />
• Bagaimana pengaturan tugas panitia<br />
• Bagaimana Acara DIKSAR berlangsung<br />
• Bagaimana materi yang disampaikan<br />
• Dan masih banyak Bagaimana ? (silahkan anda dapat mengembangkannya lagi)</li>
</ol>
<p>Dari Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itulah kita dapat menyusun Rencana Kegiatan yang didalamnya mencakup rincian :</p>
<ol>
<li>Pemilihan medan, dengan memperhitungkan lokasi basecamp panitia, pembagian waktu dan sebagainya.</li>
<li>Pengurusan perizinan (Kepolisian, Kepala Sekolah, Orang Tua, Kepala Desa Setempat)</li>
<li>Pembagian tugas panitia.</li>
<li>Penyusunan Rencana Kegiatan.</li>
<li>Perencanaan kebutuhan peralatan, perlengkapan dan Transportasi.</li>
<li>dan lain sebagainya.</li>
</ol>
<p>Dan yang tidak kalah pentingnya adalah anda akan mendapatkan point-point bagi kalkulasi biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut.</p>
<p>( Sumber : Dari Berbagai Sumber )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.petualangan.com/2008/09/manajemen-perjalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konservasi Sumber Daya Alam di Indonesia</title>
		<link>http://www.petualangan.com/2008/09/konservasi-sumber-daya-alam-di-indonesia/</link>
		<comments>http://www.petualangan.com/2008/09/konservasi-sumber-daya-alam-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 09:01:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jelajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[Konservasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Daya Alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.petualangan.com/web/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Ditinjau dari bahasa, konservasi berasal dari kata conservation, dengan pokok kata to conserve (Bhs inggris) yang artinya menjaga agar bermanfaat, tidak punah/lenyap atau merugikan. Sedangkan sumber dalam alam sendiri merupakan salah satu unsur dari liungkungan hidup yang terdiri dari sumber daya alam hayati dan sumber daya alam non hayati, serta seluruh gejala keunikan alam, semua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ditinjau dari bahasa, konservasi berasal dari kata conservation, dengan pokok kata to conserve (Bhs inggris) yang artinya menjaga agar bermanfaat, tidak punah/lenyap atau merugikan. Sedangkan sumber dalam alam sendiri merupakan salah satu unsur dari liungkungan hidup yang terdiri dari sumber daya alam hayati dan sumber daya alam non hayati, serta seluruh gejala keunikan alam, semua ini merupakan unsur pembentuk lingkungan hidup yang kehadirannya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.</p>
<p><span id="more-37"></span>Dari sedikit uraian tersebut diatas, maka konservasi sumber daya alam dapat diartikan sebagai pengelolaan sumber daya alam yang dapat menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan menjamin kesinambungan pertsediaannyadengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragamannya.</p>
<p>Menurut kemungkinan pemulihannya, kita mengenal 2 (dua) macam sumber daya alam, yaitu :</p>
<ol>
<li>Renevable, sumber daya alam yang dapat dipulihkan/  diperbaharui, yaitu sumber daya alam yang dapat dipakai kembali setelah diadakan beberapa proses.<br />
Contoh : air, pohon, hewan dll</li>
<li>Anrenevable, yaitu sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui/ dipulihkan apabila dipakai terus menerus akan habis dan tidaka dapat diperbarui.<br />
Contoh : minyak bumi, batubara, Emas dll.</li>
</ol>
<p>Pengertian konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya dapat mengandung tiga aspek, yaitu :</p>
<ol>
<li>Perlindungan sistem penyangga kehidupan</li>
<li>Pengawetan dan pemeliharaan keanekaragaman, jenis baik flora dan fauna beserta ekosistemnya.</li>
<li>Pemanfaatan secara lestari bagi terjaminnya sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.</li>
</ol>
<p>Kendala / permasalahan dan upaya penanggulangannya dalam konservasi lingkungan. Dalam melaksanakan pembangunan konservasi sumber daya alam, dan ekosistemnya masih ditemui kendala  pada umumnya diakibatkan oleh :</p>
<ol>
<li>Tekanan penduduk<br />
Jumlah penduduk Indonesia yang padat sehingga kebutuhan akan sumber daya alam meningkat.</li>
<li>Tingkat kesadaran<br />
Tingkat kesadaran ekologis dari masyarakat masih rendah, hal ini dikarenakan tingkat pendidikan yang rendah dan pendapatan yang belum memadai. Sebagai contoh beberapa kawasan konservasi yang telah ditetapkan banyak mengalami kerusakan akibat perladangan liar / berpindah-pindah.</li>
<li>Kemajuan teknologi<br />
Kemajuan teknologi yang cukup pesat akan menyerap kekayaan (eksploitasi sumber daya alam) dan kurangnya aparat pengawasan serta terbatasnya sarana prasarana.</li>
<li>Peraturan dan perundang-undangan<br />
Peraturan perundang-undangan yang ada saat ini belum cukup mendukung pembentukan kawasan konservasi khususnya laut (perairan).</li>
</ol>
<p>Agar usaha pembangunan konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup di Indonesia dapat mencapai harapan yang telah ditetapkan secara garis besar perlu ditempuh upaya sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Intensifikasi pengelolaan kawasan konservasi</li>
<li>Peningkatan dan perluasan kawasan konservasi sehingga mewakili tipe-tipe ekosistem yang ada.</li>
<li>Recruitment dan peningkatan ketrampilan personel melalui pendidikan dan latihan.</li>
<li>Peningkatan sarana dan prasarana yang memadai.</li>
<li>Peningkatan kerjasama dengan isntansi lain didalam dan luar negeri.</li>
<li>Penyempurnaan peraturan perundang-undanagn dibidang konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup.</li>
<li>Peningkatan pengamanan dan pengawasan terhadap kawasan konservasi (dengan pemberian pal-pal batas) peradaran flora dan fauna.</li>
<li>Memasyarakatkan konservasi ke seluruh lapisan masyarakat sehingga dapat berperan serta dalam upaya konservasi sumber daya alam dan lingkungan</li>
</ol>
<p>Kawasan konservasi adalah merupakan salah satu sumber kehidupan yang dapat meningkatkan kesejahtreraan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu usaha-usaha konservasi di Indonesia haruslah tetap memegang peranan penting dimasa yang akan datang, suatu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa usaha konservasi sumber daya alam tersebut harus dapat terlihat memberikan keuntungan kepada masyarakat luas, hal ini penting untuk mendapat dukungan dan partisipasi seluruh lapisan masyarakat.</p>
<p><strong>Definisi-definisi</strong></p>
<ol>
<li>Sumber Daya Alam Hayati adalah unsur-unsur hayati dialam yang terdiri dari sumber alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama unsur non hayati disekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem.</li>
<li>Konservasi sumber daya alam hayati, adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjaga kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.</li>
<li>Ekosistem sumber daya alam hayati, adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur dalam alam baik hayati maupun non hayati yang saling ketergantungan dan pengaruh mempengaruhi.</li>
<li>Kawasan suaka alam, adalah kawasan dengan ciri khas tertentu baik didarat dan diperairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah penyangga kehidupan.</li>
<li>Kawasan pelestarian alam, adalah kawasan dengan ciri khas tertentu baik didarat maupun diperairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatannya secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.</li>
<li>Kader konservasi dan pecinta alam, adalah seseorang atau sekelompk orang yang telah terdidik atau ditetapkan oleh isntansi pemerintah atau lembaga non pemerintah yang secara sukarela sebagai penerus upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, bersedia serta mampu menyampaikan pesan-pesan konservasi kepada masyarakat.</li>
<li>Cagar alam, adalah hutan suaka alam yang berhubungan dengan keadaan alam yang khas termasuk alam hewani dan alam nabati yang perlu dilindungi untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.petualangan.com/2008/09/konservasi-sumber-daya-alam-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kode Etik Pecinta Alam</title>
		<link>http://www.petualangan.com/2008/09/kode-etik-pecinta-alam/</link>
		<comments>http://www.petualangan.com/2008/09/kode-etik-pecinta-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 08:56:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jelajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Database]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[Pecinta Alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.petualangan.com/web/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[KODE ETIK PECINTA ALAM
Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.


Pecinta Alam Indonesia sebagai bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab kami kepada Tuhan, Bangsa, dan Tanah Air.


Pecinta alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam sebagai makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

Sesuai dengan hakekat diatas, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>KODE ETIK PECINTA ALAM</strong></p>
<p>Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<ul></ul>
<ul>
<li>Pecinta Alam Indonesia sebagai bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab kami kepada Tuhan, Bangsa, dan Tanah Air.</li>
</ul>
<ul>
<li>Pecinta alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam sebagai makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.</li>
</ul>
<p><span id="more-35"></span>Sesuai dengan hakekat diatas, maka kami dengan kesadaran menyatakan :</p>
<ol>
<li>Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.</li>
<li>Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya.</li>
<li>Mengabdi kepada bangsa dan tanah air.</li>
<li>Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitarnya serta menghargai manusia dengan kerabatnya.</li>
<li>Berusaha mempererat tali persaudaraan antar pecinta alam sesuai asas pecinta alam.</li>
<li>Berusaha saling membantu serta saling menghargai pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan tanah air.</li>
<li>Selesai</li>
</ol>
<p style="text-align: right;"><strong>DISAHKAN BERSAMA<br />
DALAM GLADIAN KE IV<br />
DI UJUNG PANDANG TAHUN 1974<br />
Pukul 01.00 WITA</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.petualangan.com/2008/09/kode-etik-pecinta-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iklim dan Cuaca</title>
		<link>http://www.petualangan.com/2008/09/iklim-dan-cuaca/</link>
		<comments>http://www.petualangan.com/2008/09/iklim-dan-cuaca/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 08:47:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jelajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[Iklim dan Cuaca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.petualangan.com/web/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Cuaca adalah kondisi udara disuatu tempat pada saat yang relatif singkat. Meliputi kondisi temperatur, kelembaban dan tekanan. Iklim adalah kondisi udara disuatu wilayah pada periode waktu yang tertentu dan relatif lama. Dapt disimpulkan bahwa cuaca lebih bersifat temporal dan dalam lingkup yang kecil. Sedangkan iklim itentukan oleh sifat cuaca rata-rata.
Pembagian iklim secara garis besar dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cuaca adalah kondisi udara disuatu tempat pada saat yang relatif singkat. Meliputi kondisi temperatur, kelembaban dan tekanan. Iklim adalah kondisi udara disuatu wilayah pada periode waktu yang tertentu dan relatif lama. Dapt disimpulkan bahwa cuaca lebih bersifat temporal dan dalam lingkup yang kecil. Sedangkan iklim itentukan oleh sifat cuaca rata-rata.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify">Pembagian iklim secara garis besar dengan melihat kedudukan daerah tersebut pada muka bumi, tepatnya pada garis arah peredaran matahari (katulistiwa). Selain itu pembagian iklim secara lebih detil berdasarkan sifat meteorologi dan sifat geofisika daerah tersebut. hal ini selain ditentukan oleh posisi terhadap gais katulistiwa juga ditentukan oleh tinggi rendahnya suatu daerah dan luas daerah.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span id="more-30"></span>Dunia  kita dibagi menjadi empat daerah iklim besar :</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>1.Daerah iklim tropika</strong></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="text-decoration: underline;">Daerah iklim tropika dengan 	hutan tropika</span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left: 1.25cm; margin-bottom: 0cm;">Sifat iklim disini basah dengan amplitudo temperatur tidak seberapa besar. Karakteristiknya mirip dengan iklim laut. Hampir tiap bulan hujan turun minimal 6 cm per tahun.</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="text-decoration: underline;">Daerah iklim tropika dengan 	sabana</span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left: 1.25cm; margin-bottom: 0cm;">Memiliki musim kemarau yang jelas karea pengaruh angin musim.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>2.Daerah iklim Sub Tropis</strong></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="text-decoration: underline;">Daerah beriklim padang pasir</span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left: 1.25cm; margin-bottom: 0cm;">Merupakan daerah yang tidak menerima hujan sepanjang tahun.</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="text-decoration: underline;">Daerah iklim stepe</span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left: 1.25cm; margin-bottom: 0cm;">Daerah yang menerima hujan yang amat sedikit, sehingga masih ditemukan tumbuh-tumbuhan.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>3.Daerah iklim sedang</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Mempunyai penggantian musim yang tertentu. Disini bertiup angin barat dan kadang bertiup angin ribut.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>4.Daerah iklim kutub</strong></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="text-decoration: underline;">Iklim tundra</span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left: 1.25cm; margin-bottom: 0cm;">Merupakan daerah sekitar kutub dengan batas hemoterm 10  C pada bulan panas</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="text-decoration: underline;">Iklim Salju</span></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-left: 1.25cm; margin-bottom: 0cm;">Temperatur rata-rata dibawah 0 C. iklim ini juga dijumpai didaerah tinggi, yakni diatas garis batas salju. Garis batas salju didaerah kutub 0 m. di Indonesia hanya terdapat didaerah Gunung Jayawijaya Irian Jaya.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Pembagian iklim lain ditekankan pada sifat meteorologi setempat, tekanan temperatur, kelembaban, kondisi dan letak daerah tersebut terhadap samudera berpengaruh disini.</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>1.Iklim laut</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Iklim laut pada daerah tropis dan sub tropis mempunyai sifat :</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Rata-rata suhu harian dan tahunan 	tidak tinggi.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Amplitudo suhu harian kecil.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Banyak hujan deras dan awan.</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Iklim laut pada daerah sedang mempunyai sifat :</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Amplitudo suhu harian dan tahunan 	tidak tinggi</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Banyak awan dan hujan hanya 	rintik-rintik.</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>2.Iklim Darat</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Iklim darat pada daerah tropis dan subtropis mempunayi sifat :</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Amplitudo suhu harian sangat 	besar.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Amplitudo suhu tahunan kecil</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Sedikit awan dann hujan</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Banyak angin kering dan topan</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Iklim Darat pada daerah sedang mempunyai sifat :</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Amplitudo suhu harian dan tahunan 	besar</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Hujan sangat sedikit dan jatuh 	pada musim panas</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>3.Iklim daerah tinggi</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Iklim didaerah ini mempunyai sfat :</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Amplitudo harian dann tahunan 	besar</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Udara kering</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Jarang turun hujan</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Iklim didaerah tingi pada gunung mempunayi  sifat :</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Amplitudo suhu kecil daripada 	daerah tinggi, namun hampir sama dengan didaerah iklim laut</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;">Hujan banyak jatuh dibagian muka 	gunung menurut arah angin (hujan orografis)</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>Sumber : Dari berbagai sumber.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.petualangan.com/2008/09/iklim-dan-cuaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
