<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Petualangan.Com &#187; Tutorial</title>
	<atom:link href="http://www.petualangan.com/tag/tutorial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.petualangan.com</link>
	<description>Pusat Informasi dan Komunitas Petualang Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Apr 2010 09:27:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<image>
<link>http://www.petualangan.com</link>
<url>http://www.petualangan.com/wp-content/plugins/maxblogpress-favicon/icons/favicon-p.ico</url>
<title>Petualangan.Com</title>
</image>
		<item>
		<title>Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)</title>
		<link>http://www.petualangan.com/2008/09/pertolongan-pertama-pada-kecelakaan-p3k/</link>
		<comments>http://www.petualangan.com/2008/09/pertolongan-pertama-pada-kecelakaan-p3k/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 07:02:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jelajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tutorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.petualangan.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Sehari-hari dimana saja dan kapan saja, tidak jarang kita jumpai berbagai macam kecelakan, dengan akibat luka ringan maupun berat.
Menilik dari hal tersebut, diharapkan kita dapat menguasai dan menerapkan pengetahuan tentang pertolongan pertama apabila terjadi kecelakaan.
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan/Gangguan Yang Diakibatkan Oleh Aktifitas di Alam Bebas :
1.Gangguan Umum
a. Shock
Tanda-tanda :
- Kesadaran menurun, denyut nadi cepat, lemah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sehari-hari dimana saja dan kapan saja, tidak jarang kita jumpai berbagai macam kecelakan, dengan akibat luka ringan maupun berat.<br />
Menilik dari hal tersebut, diharapkan kita dapat menguasai dan menerapkan pengetahuan tentang pertolongan pertama apabila terjadi kecelakaan.</p>
<p>Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan/Gangguan Yang Diakibatkan Oleh Aktifitas di Alam Bebas :<br />
<strong>1.Gangguan Umum</strong><br />
a. Shock<br />
Tanda-tanda :<br />
- Kesadaran menurun, denyut nadi cepat, lemah dan kemudian menghilang.<br />
- Kulit pucat, dingin dan lembab.<br />
- Nafas dangkal tidak teratur.<br />
- Mata hampa, suram.<br />
- Penderita merasa pusing, mual.<br />
<span id="more-96"></span><br />
Penyebab :<br />
- Tekanan emosi hebat<br />
- Kehilangan darah atau cairan<br />
- Keracunan</p>
<p>Pertolongan :<br />
- Baringkan penderita dengan kepala lebih rendah, kecuali pasien menderita gegar otak dan patah tulang.<br />
- Kendorkan pakaian, beri selimut.<br />
- Jangan beri minum.</p>
<p>b. Pingsan<br />
Tanda-tanda :<br />
- Penderita tidak sadar, terbaring tidak bergerak, terkadang sangat gelisah.<br />
- Pernafasan ada nadi berdenyut.<br />
 <br />
Penyebab :<br />
- Kurang memeproleh zat asam.<br />
- Terlalu kepanasan/kedinginan, kesakitan.<br />
- Keracunan<br />
- Penyakit kronis, ginjal, jantung, diabetes, dsb.<br />
 <br />
Pertolongan :<br />
- Baringkan penderita ditempat teduh dan udara segar.<br />
- Bila wajah pucat, kepala direndahkan (sebaliknya).<br />
- Buka/longgarkan pakaian.<br />
- Bila penderita muntah, letakkan kepala dalam posisi miring, untuk mencegah muntahan terselak masuk ke paru-paru.<br />
- Beri penyegar (decologne) atau amoniak agar segera sadar.<br />
 <br />
c.Mati suri<br />
Tanda-tanda :<br />
- Kesadaran diantara pingsan dan mati.<br />
- Pernafasan tidak nampak.<br />
- Nadi tidak teraba.<br />
- Wajah pucat kebiru-biruan.<br />
Penyebab :<br />
- Tidak dapat bernafas<br />
- Menghirup gas beracun.</p>
<p>Pertolongan :<br />
- Lakukan seperti penderita pingsan.<br />
- Bersihkan jalan nafas.<br />
- Segera bawa ke dokter.<br />
 <br />
<strong>2.Kejang otot (Kram)</strong><br />
Penyebab :<br />
- Terlalu letih<br />
- Karena dingin/panas<br />
- Kekurangan garam, rendahnya kadar mineral.<br />
- Bernafas terlalu cepat ketika tidak diperlukan, sehingga menghalangi pemakaian kalsium oleh tubuh.</p>
<p>Tanda-tanda :<br />
- Rasa sakit yang terus menerus, berlangung selama beberapa detik sampai beberapa jam.</p>
<p>Pertolongan :<br />
- Dengan merenggangkan otot tersebut, bila kejang dibetis, berdiri dengan bertumpu pada jari kaki atau mendorong bagian depan kaki ke atas dan memijit otot yang kejang kearah jantung.<br />
- Bila yang menderita kejang adalah otot lengan atas depan, pijitlah otot tersebut dengan satu tangan dan mintalah bantuan teman anda untuk meluruskan siku tersebut.<br />
 <br />
<strong>3.Terkilir (Reptura Tendo)</strong><br />
Yaitu terlepasnya tendo dari tulang/otot (Tendo adalah penghubung antara tulang/sendi).<br />
Tanda-tanda :<br />
- Seseorang yang menderita reptura tendo atau terkilir biasanya terdengar suaranya.<br />
- Rasa sakit yang hebat sehingga orang tersebut menggeliat kesakitan dan memegang otot tersebut dalam posisi konstraksi.<br />
- Ia tidak akan membiarkan otot tersebut digerakkan, bahkan biasanya tidak akan mau diperiksa, kecuali bila telah menerima obat penghilang rasa sakit.<br />
- Membengkak sakit selama beberapa hari dan timbul tanda biru/hitam.</p>
<p>Penyebab :<br />
- Konstraksi otot yang kuat yang terjadi dengan tiba-tiba.<br />
- Otot yang tegang dan tidak fleksibel mudah menderita reptura tendo.</p>
<p>Pertolongan :<br />
- Rest : istirahat<br />
- Ice : pendinginan<br />
- Compression : penekanan<br />
- Elevation : pendinginan bagian tubuh yang cidera<br />
- Segera hubungi dokter<br />
 <br />
<strong>4.Dislokasi (sendi meleset)</strong><br />
Yaitu terlepasnya sendi dari tempat yang seharusnya.<br />
Dislokasi sendi rahang<br />
Penyebab :<br />
- Menguap atau tertawa terlalu lebar<br />
- Terkena pukulan keras ketika rahang sedang terbuka.</p>
<p>Pertolongan :<br />
- Mempergunakan ibu jari yang ditekankan ke rahang, ibu hari sebelumnya dibalut terlebih dahulu.<br />
Caranya, rahang tersebut ditekankan kebawah dengan kedua ibu jari tersebut diletakkan digeraham yang paling belakang, tekanan harus mantap tetapi pelan-pelan, bersamaan dengan penekanan tersebut, jari-jari yang lain mengangkat dagu penderita keatas.</p>
<p>Dislokasi sendi bahu<br />
Pertolongan :<br />
- Perhatikan apakah ada patah tulang.<br />
- Apabila tidak ada, cedera ditekan dengan telapak tangan/kaki. Sementara itu lengan penderita ditarik sesuai dengan arah kedudukan ketika itu, tarikan harus dilakukan dengan pelan dan semakin lama dan semakin kuat, kemudian dengan hati-hati lengan atas diputar (arah jauhi tubuh) hal ini sebaiknya dilakukan dengan siku berlipat. Dengan cara ini diharapkan ujung lengan atas akan menggeser kembli ketempat semula.</p>
<p>Dislokasi sendi paha (pinggul)<br />
Penyebab :<br />
- Lutut membentur, paha terdorong kebelakang dan terlepas dari sendinya.</p>
<p>Tanda-tanda :<br />
- Lutut terputar kedalam, paha terkunci mendekati garis tengah tubuh, bila digerakkan terasa nyeri.<br />
Usahakan jangan digerakkan, bawa segera ke rumah sakit.<br />
 <br />
<strong>5.Patah Tulang</strong><br />
a. Patah tulang stress<br />
Tanda-tanda :<br />
- Tidak tampak<br />
- Sakit bila ditekan dari atas dan dari bawah.<br />
- Sakit ringan dan semakin sakit bila terus digunakan.<br />
Penyebab :<br />
- Kaki yang mempunyai lengkungan yang tinggi, sehingga sebagian besar gaya langkah terpusatkan pada tulang dan kaki.</p>
<p>Pertolongan :<br />
- Istirahatkan bagian tubuh yang sakit.<br />
 <br />
b. Patah tulang komplet<br />
Tanda-tanda :<br />
- Rasa sakit yang hebat disertai dengan pembengkakan.<br />
- Bila memutuskan pembuluh darah darah dapat mengakibatkan pendarahan.<br />
 <br />
Penyebab :<br />
- Kekerasan dari luar, terpukul benda-benda keras, tertembak terjatuh dan sebagainya.<br />
 <br />
Pertolongan :<br />
- Mencegah pendarahan<br />
- Mencegah gugat<br />
- Mencegah rasa nyeri<br />
- Mencegah infeksi<br />
- Pembalutan/pembidaian.<br />
 <br />
<strong>6.Perdarahan Pembuluh Nadi</strong><br />
Tanda-tanda :<br />
Darah keluar menyembur sesuai dengan denyut jantung, darah yang keluar berwarna merah segar.<br />
 <br />
Pertolongan :<br />
- Menekan ditempat perdarahan dengan kain, setelah luka dibersihkan.<br />
- Usahakan bagian yang mengalami perdarahan lebih tinggi dari letak.<br />
- Jika belum berhasil, hentikan perdarahan dengan memijit pembuluh nadi (arteri) antara luka dengan jantung (diatas posisi luka)<br />
- Dengan memasang touniquet (dikendorkan tiap 15 menit)<br />
 <br />
<strong>7.Keracunan</strong><br />
Racun bisa masuk ketubuh melalui :<br />
a. Pernafasan<br />
Tanda-tanda :<br />
- Banyak keluar air liur dan air mata<br />
- Batuk-batuk<br />
- Warna muka merah<br />
 <br />
Pertolongan :<br />
- Bawa secepatnya ketampat yang bebas gari gas beracun tersebut.<br />
- Tidurkan terlentang dan beri selimut.<br />
- Bila perlu beri penafasan buatan jangan dari mulut ke mulut.<br />
- Segera bawa ke rumah sakit<br />
b. Melalui kulit<br />
Pertolongan :<br />
- Pakaian yang terkena racun dilepas<br />
- Bagian tubuh yang terkena racun disiram dengan air dingin terus menerus.<br />
 <br />
c. Melalui makanan<br />
Keracunan Botulinum (banyak dijumpai pada makanan dalam kaleng)<br />
Gejala :<br />
- Muncul secara mendadak 18-36 jam sesudah memakan makanan tersebut<br />
- Lemah badan, disusul penglihatan kabur dan ganda.<br />
- Penderita mengalami kesulitan berbicara dan susah menelan.</p>
<p>Pertolongan :<br />
- Hanya dapat diberikan di rumah sakit dengan menyuntikkan serum antitoksin khusus untuk Botulinum.</p>
<p>Pencegahan :<br />
- Sebelum dihidangkan, makanan dalam kaleng dibuka kemudian direbus bersama kalengnya didalam air sampai mendidih.<br />
 <br />
Keracunan jamur<br />
Gejala :<br />
- Muncul dalam jarak beberapa menit sampai 2 jam sesudah makan jamur beracun tersebut.<br />
- Sakit perut yang hebat, mencret.<br />
- Banyak berkeringat<br />
- Mental kacau<br />
- Pingsan<br />
Pertolongan :<br />
- Usahakan agar muntah<br />
- Bilas lambung<br />
- Bila perlu berikan pernafasan buatan.</p>
<p>Sumber : Dari Berbagai Sumber</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.petualangan.com/2008/09/pertolongan-pertama-pada-kecelakaan-p3k/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Navigasi Darat</title>
		<link>http://www.petualangan.com/2008/09/navigasi-darat/</link>
		<comments>http://www.petualangan.com/2008/09/navigasi-darat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 12:47:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jelajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[Navigasi Darat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.petualangan.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Navigasi darat merupakan ilmu praktis. Kemampuan bernavigasi dapat terasah jika sering berlatih. Pemahaman teori dan konsep hanyalah faktor yang membantu, dan tidak menjamin jika mengetahui teorinya secara lengkap, maka kemampuan navigasinya menjadi tinggi.
Dalam mendaki naik gunung, ada pengetahuan dasar khususnya menyangkut navigasi darat atau peta-kompas yang harus dimiliki seorang pendaki. Peralatan navigasi standar yang harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Navigasi darat</strong> merupakan ilmu praktis. Kemampuan bernavigasi dapat terasah jika sering berlatih. Pemahaman teori dan konsep hanyalah faktor yang membantu, dan tidak menjamin jika mengetahui teorinya secara lengkap, maka kemampuan navigasinya menjadi tinggi.</p>
<p>Dalam mendaki naik gunung, ada pengetahuan dasar khususnya menyangkut navigasi darat atau peta-kompas yang harus dimiliki seorang pendaki. Peralatan navigasi standar yang harus dibawa saat mendaki gunung adalah peta, kompas, dan altimeter. Dalam arti populer, peta adalah representasi bentuk bentang bumi yang dicetak di kertas.</p>
<p><span id="more-70"></span>Peta sendiri ada banyak ragamnya, sesuai keperluan. Namun peta yang bermanfaat bagi pendaki gunung adalah topografi, peta yang menggambarkan bentuk-bentuk dan kondisi permukaan bumi. Dalam melihat peta, perhatikan skala atau perbandingan jarak dengan jarak sebenarnya. Skala peta dapat ditunjukkan dalam angka (misalnya 1:250.000) atau dalam bentuk garis. Untuk itu, jangan menggunakan fotokopi peta yang diperbesar atau diperkecil ukurannya.</p>
<p>Selain membingungkan penghitungan jarak, pembesaran peta tidak menunjukkan akurasi relief bumi. Ada baiknya, pendaki lebih dahulu mempelajari makna le-genda (simbol konvensional) dan kontur-garis penunjuk relief bumi-yang ada di peta. Penjelasan legenda selalu ada di bagian bawah peta. Dengan membaca kontur, dapat dibayangkan kondisi medan sebenarnya. Garis-garis kontur bersisian rapat menunjukkan medan yang curam, bila jarang berarti medannya landai.</p>
<p>Lengkungan kontur yang menonjol keluar dari sebuah titik, menggambarkan punggung bukit atau gunung (ridge), sebaliknya adalah lembah. Di lembah-lembah seperti itu biasanya ada aliran sungai. Ditambah kompas, peta merupakan alat untuk dapat menentukan posisi pendaki di gunung atau menunjukkan arah jalan. Teknik menggunakan variasi kompas dan peta dikenal dengan cross bearing, terbagi dalam resection (menentukan posisi kita di dalam peta) dan intersection (menentukan posisi satu tempat di peta).</p>
<p>Resection dilakukan dengan mula-mula mencari dua titik di medan sebenarnya yang dapat diidentifikasi dalam peta seperti puncak-puncak gunung. Kedua, hitunglah sudut (azimuth) kedua obyek tadi terhadap arah utara dengan kompas. Ketiga, pindahlah ke peta. Dengan menggunakan busur derajat, letakkan titik pusat busur derajat menghimpit titik identifikasi obyek dalam peta. Bila sudut azimuth yang diperoleh kurang dari 180 derajat, tambahkan azimuth itu dengan angka 180 derajat. Bila azimuth yang didapat dari kompas lebih dari 180 derajat, tambahkan dengan angka 180 derajat. Keempat, gunakan angka hasil perhitungan itu (dinamakan teknik back azimuth) untuk membuat garis lurus dari titik identifikasi. Perpotongan dua garis dari dua titik identifikasi menunjukkan letak kita di dalam peta.</p>
<p>Menentukan titik awal perjalanan di peta merupakan hal yang penting. Di tengah perjalanan, seorang pendaki kerap tidak dapat memainkan teknik cross bearing karena faktor cuaca atau medan yang tidak memungkinkan melihat titik-titik orientasi. Bila demikian, membandingkan keadaan medan sekitar dengan kontur peta dan merunutnya dari titik awal perjalanan, kadang menjadi satu-satunya cara menentukan posisi. Dalam keadaan seperti itu, altimeter atau piranti penunjuk ketinggian sangat dibutuhkan.</p>
<p>Saat ini fungsi kompas dan altimeter dapat diganti dengan GPS (Global Positioning System/piranti canggih menggunakan sinyal satelit). Dengan alat itu, pendaki dapat mengetahui kedudukannya dalam lintang dan bujur (koordinat) bumi. Pemakainya tinggal mencari besaran koordinat di peta. Bahkan GPS model mutakhir dapat menyimpan rekaman gambar peta melalui CD-Rom. Dengan begitu, pendaki bisa mengabaikan peta karena peta sekaligus tersaji di layar monitornya. Bisa juga menggunakan jam tangan keluaran suunto dan casio yang ada fitur altimeter, barometer dan kompas.</p>
<p><strong>Peta</strong><br />
Peta adalah penggambaran dua dimensi (pada bidang datar) dari sebagian atau keseluruhan permukaan bumi yang dilihat dari atas, kemudian diperbesar atau diperkecil dengan perbandingan tertentu. Dalam navigasi darat digunakan peta topografi. Peta ini memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis kontur.</p>
<p>Beberapa unsur yang bisa dilihat dalam peta :</p>
<ul>
<li>udul peta; biasanya terdapat di atas, menunjukkan letak peta</li>
<li>Nomor peta; selain sebagai nomor registrasi dari badan pembuat, kita bisa menggunakannya sebagai petunjuk jika kelak kita akan mencari sebuah peta</li>
<li>Koordinat peta; penjelasannya dapat dilihat dalam sub berikutnya</li>
<li>Kontur; adalah merupakan garis khayal yang menghubungkan titik titik yang berketinggian sama diatas permukaan laut.</li>
<li>Skala peta; adalah perbandingan antara jarak peta dan jarak horizontal dilapangan. Ada dua macam skala yakni skala angka (ditunjukkan dalam angka, misalkan 1:25.000, satu senti dipeta sama dengan 25.000 cm atau 250 meter di keadaan yang sebenarnya), dan skala garis (biasanya di peta skala garis berada dibawah skala angka).</li>
<li>Legenda peta, adalah simbol-simbol yang dipakai dalam peta tersebut dibuat untuk memudahkan  pembaca menganalisa peta.</li>
</ul>
<p>Di Indonesia, peta yang lazim digunakan adalah peta keluaran Direktorat Geologi Bandung, lalu peta dari Jawatan Topologi, yang sering disebut sebagai peta AMS (American Map Service) dibuat oleh Amerika dan rata-rata dikeluarkan pada tahun 1960. Peta AMS biasanya berskala 1:50.000 dengan interval kontur (jarak antar kontur) 25 m. Selain itu ada peta keluaran Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) yang lebih baru, dengan skala 1:50.000 atau 1:25.000 (dengan interval kontur 12,5m). Peta keluaran Bakosurtanal biasanya berwarna.</p>
<p><strong>Koordinat</strong><br />
Peta Topografi selalu dibagi dalam kotak-kotak untuk membantu menentukan posisi dipeta dalam hitungan koordinat. Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Secara teori, koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yakni perpotongan antara garis-garis yang tegak lurus satu sama lain.</p>
<p>Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua macam yaitu :</p>
<ul>
<li>Koordinat Geografis (Geographical Coordinate)<br />
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus dengan garis khatulistiwa, dan garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit dan detik. Pada peta Bakosurtanal, biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama. Pada peta ini, satu kotak (atau sering disebut satu karvak) lebarnya adalah 3.7 cm. Pada skala 1:25.000, satu karvak sama dengan 30 detik (30&#8243;), dan pada peta skala 1:50.000, satu karvak sama dengan 1 menit (60&#8243;).</li>
<li>Koordinat Grid (Grid Coordinate atau UTM)<br />
Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak setiap titik acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan berada disebelah barat Jakarta (60 LU, 980 BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke timur. Sistem koordinat mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat grid. Satu karvak sebanding dengan 2 cm. Karena itu untuk penentuan koordinat koordinat grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian (per 2 mm). Sedangkan penentuan koordinat grid 8 angka dibagi menjadi sepuluh bagian (per 1mm).</li>
</ul>
<p><strong>Analisa Peta</strong><br />
Salah satu faktor yang sangat penting dalam navigasi darat adalah analisa peta. Dengan satu peta, kita diharapkan dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang keadaan medan sebenarnya, meskipun kita belum pernah mendatangi daerah di peta tersebut.</p>
<ul>
<li>Unsur dasar peta<br />
Untuk dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya, pertama kali kita harus cek informasi dasar di peta tersebut, seperti judul peta, tahun peta itu dibuat, legenda peta dan sebagainya. Disamping itu juga bisa dianalisa ketinggian suatu titik (berdasarkan pemahaman tentang kontur), sehingga bisa diperkirakan cuaca, dan vegetasinya.</li>
<li>Mengenal tanda medan<br />
Disamping tanda pengenal yang terdapat dalam legenda peta, kita dapat menganalisa peta topografi  berdasarkan bentuk kontur. Beberapa ciri kontur yang perlu dipahami sebelum menganalisa tanda  medan :</li>
</ul>
<p>Antara garis kontur satu dengan yang lainnya tidak pernah saling berpotongan Garis yang berketinggian lebih rendah selalu mengelilingi garis yang berketinggian lebih tinggi, kecuali diberi keterangan secara khusus, misalnya kawah. Beda ketinggian antar kontur adalah tetap meskipun kerapatan berubah-ubah  Daerah datar mempunyai kontur jarang-jarang sedangkan daerah terjal mempunyai kontur rapat.</p>
<p>Beberapa tanda medan yang dapat dikenal dalam peta topografi :</p>
<ul>
<li>Puncak bukit atau gunung biasanya berbentuk lingkaran kecil, tertelak ditengah-tengah lingkaran kontur lainnya.</li>
<li>Punggungan terlihat sebagai rangkaian kontur berbentuk U yang ujungnya melengkung menjauhi puncak</li>
<li>Lembahan terlihat sebagai rangkaian kontur berbentuk V yang ujungnya tajam menjorok kepuncak. Kontur lembahan biasanya rapat.</li>
<li>Saddle, daerah rendah dan sempit diantara dua ketinggian</li>
<li>Pass, merupakan celah memanjang yang membelah suatu ketinggian</li>
<li>Sungai, terlihat dipeta sebagai garis yang memotong rangkaian kontur, biasanya ada di lembahan, dan namanya tertera mengikuti alur sungai. Dalam membaca alur sungai ini harap diperhatikan lembahan curam, kelokan-kelokan dan arah aliran.</li>
<li>Bila peta daerah pantai, muara sungai merupakan tanda medan yang sangat jelas, begitu pula pulau-pulau kecil, tanjung dan teluk</li>
</ul>
<p>Pengertian akan tanda medan ini mutlak diperlukan, sebagai asumsi awal dalam menyusun perencanaan perjalanan diperlukan Kompas. Kompas adalah alat penunjuk arah, dan karena sifat magnetnya, jarumnya akan selalu menunjuk arah utara selatan (meskipun utara yang dimaksud disini bukan utara yang sebenarnya, tapi utara magnetis). Secara fisik, kompas terdiri dari :</p>
<ul>
<li>Badan, tempat komponen lainnya berada</li>
<li>Jarum, selalu menunjuk arah utara selatan, dengan catatan tidak dekat dengan megnet lain/tidak dipengaruhi medan magnet, dan pergerakan jarum tidak terganggu/peta dalam posisi horizontal.</li>
<li>Skala penunjuk, merupakan pembagian derajat sistem mata angin.</li>
<li>Jenis kompas yang biasa digunakan dalam navigasi darat ada dua macam yakni kompas bidik (misal kompas prisma) dan kompas orienteering (misal kompas silva, suunto dll). Untuk membidik suatu titik, kompas bidik jika digunakan secara benar lebih akurat dari kompas silva. Namun untuk pergerakan dan kemudahan ploting peta, kompas orienteering lebih handal dan efisien.</li>
</ul>
<p>Dalam memilih kompas, harus berdasarkan penggunaannya. Namun secara umum, kompas yang baik adalah kompas yang jarumnya dapat menunjukkan arah utara secara konsisten dan tidak bergoyang-goyang dalam waktu lama. Bahan dari badan kompas pun perlu diperhatikan harus dari bahan yang kuat/tahan banting mengingat kompas merupakan salah satu unsur vital dalam navigasi darat</p>
<p><strong>Orientasi Peta</strong><br />
Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya ( atau dengan kata lain menyamakan utara peta dengan utara sebenarnya). Sebelum anda mulai orientasi peta, usahakan untuk mengenal dulu tanda-tanda medan sekitar yang menyolok dan posisinya di peta. Hal ini dapat dilakukan dengan pencocokan nama puncakan, nama sungai, desa dll. Jadi minimal anda tahu secara kasar posisi anda dimana.</p>
<p>Orientasi peta ini hanya berfungsi untuk meyakinkan anda bahwa perkiraan posisi anda dipeta adalah benar. Langkah-langkah orientasi peta :</p>
<ul>
<li>Usahakan untuk mencari tempat yang berpemandangan terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang menyolok.</li>
<li>Siapkan kompas dan peta anda, letakkan pada bidang datar</li>
<li>Utarakan peta, dengan berpatokan pada kompas, sehingga arah peta sesuai dengan arah medan sebenarnya</li>
<li>Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol disekitar anda, dan temukan tanda-tanda medan tersebut di peta. Lakukan hal ini untuk beberapa tanda medan</li>
<li>Ingat tanda-tanda itu, bentuknya dan tempatnya di medan yang sebenarnya. Ingat hal-hal khas dari tanda medan.</li>
</ul>
<p>Jika anda sudah lakukan itu semua, maka anda sudah mempunyai perkiraan secara kasar, dimana posisi anda di peta. Untuk memastikan posisi anda secara akurat, dipakailah metode resection.</p>
<p><strong>Resection</strong><br />
Resection adalah menentukan posisi kita dipeta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik ini paling tidak membutuhkan dua tanda medan yang terlihat jelas dan dapat dibidik (untuk latihan resection biasanya dilakukan dimedan terbuka seperti kebon teh misalnya, agar tanda medan yang ekstrim terlihat dengan jelas). Tidak setiap tanda medan harus dibidik, minimal dua, tapi posisinya sudah pasti.</p>
<p>Langkah-langkah melakukan resection :</p>
<ul>
<li>Lakukan orientasi peta</li>
<li>Cari tanda medan yang mudah dikenali di lapangan dan di peta, minimal 2 buah</li>
<li>Dengan busur dan penggaris, buat salib sumbu pada tanda-tanda medan tersebut (untuk alat tulis paling ideal menggunakan pensil mekanik).</li>
<li>Bidik tanda-tanda medan tersebut dari posisi kita dengan menggunakan kompas bidik. Kompas orienteering dapat digunakan, namun kurang akurat.</li>
<li>Pindahkan sudut bidikan yang didapat ke peta dan hitung sudut pelurusnya. Lakukan ini pada setiap tanda medan yang dijadikan sebagai titik acuan.</li>
<li>Perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita dipeta.</li>
</ul>
<p><strong>Intersection</strong><br />
Intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali di lapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan tetapi sukar untuk dicapai. Sebelum intersection kita sudah harus yakin terlebih dahulu posisi kita dipeta. Biasanya sebelum intersection, kita sudah melakukan resection terlebih dahulu.</p>
<p>Langkah-langkah melakukan intersection adalah:</p>
<ul>
<li>Lakukan orientasi peta</li>
<li>Lakukan resection untuk memastikan posisi kita di peta.</li>
<li>Bidik obyek yang kita amati</li>
<li>Pindahkan sudut yang didapat ke dalam peta</li>
<li>Bergerak ke posisi lain dan pastikan posisi tersebut di peta. Lakukan langkah 1-3</li>
<li>Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek yang dimaksud.</li>
</ul>
<p>Peralatan yang dibutuhkan :</p>
<ul>
<li>Kompas bidik atau prisma</li>
<li>Conector</li>
<li>Peta Topografi</li>
<li>Pensil</li>
<li>Penggaris</li>
<li>Spidol warna</li>
</ul>
<p><strong>Azimuth &#8211; Back Azimuth</strong><br />
Azimuth adalah sudut antara satu titik dengan arah utara dari seorang pengamat. Azimuth disebut juga sudut kompas. Jika anda membidik sebuah tanda medan, dan memperolah sudutnya, maka sudut itu juga bisa dinamakan sebagai azimuth. Kebalikannya adalah back azimuth.</p>
<p>Dalam resection back azimuth diperoleh dengan cara:</p>
<ul>
<li>Jika azimuth yang kita peroleh lebih dari 180º maka back azimuth sama dengan azimuth dikurangi 180º.  Misal anda membidik tanda medan, diperoleh azimuth 200º. Back azimuthnya adalah 200º- 180º = 20º</li>
<li>Jika azimuth yang kita peroleh kurang dari 180º, maka back azimuthnya dama dengan 180º ditambah azimuth. Misalkan, dari bidikan terhadap sebuah puncak, seiperoleh azimuth 160º, maka back  azimuthnya adalah 180º+160º = 340º</li>
</ul>
<p>Dengan mengetahui azimuth dan back azimuth ini, memudahkan kita untuk dapat melakukan ploting peta (penarikan garis lurus di peta berdasarkan sudut bidikan). Selain itu sudut kompas dan back azimuth ini dipakai dalam metode pergerakan sudut kompas (lurus/ man to man). Prinsipnya membuat lintasan berada pada satu garis lurus dengan cara membidikaan kompas ke depan dan ke belakang pada jarak tertentu.</p>
<p>Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Titik awal dan titik akhir perjalanan di plot di peta, tarik garis lurus dan hitung sudut yang menjadi arah perjalanan (sudut kompas). Hitung pula sudut dari titik akhir ke titik awal. Sudut ini dinamakan back azimuth.</li>
<li>Perhatikan tanda medan yang menyolok pada titik awal perjalanan.</li>
<li>Perhatikan tanda medan lain pada lintasan yang dilalui.</li>
<li>Bidikkan kompas seusai dengan arah perjalanan kita, dan tentukan tanda medan lain di ujung lintasan/titik bidik. Sudut bidikan ini dinamakan azimuth.</li>
<li>Pergi ke tanda medan di ujung lintasan, dan bidik kembali ke titik pertama tadi, untuk mengecek apakah arah perjalanan sudah sesuai dengan sudut kompas (back azimuth).</li>
<li>Sering terjadi tidak ada benda/tanda medan tertentu yang dapat dijadikan sebagai sasaran. Untuk itu dapat dibantu oleh seorang rekan sebagai tanda. Sistem pergerakan semacam ini sering disebut sebagai sistem man to man.</li>
</ul>
<p><strong>Merencanakan Jalur Lintasan</strong><br />
Dalam navigasi darat tingkat lanjut, kita diharapkan dapat menyusun perencanaan jalur lintasan dalam sebuah medan perjalanan. Sebagai contoh anda misalnya ingin pergi ke gunung Semeru, tapi dengan menggunakan jalur sendiri. Penyusunan jalur ini dibutuhkan kepekaan yang tinggi, dalam menafsirkan sebuah peta topografi, mengumpulkan data dan informasi dan mengolahnya sehingga anda dapat menyusun sebuah perencanaan perjalanan yang matang. Dalam proses perjalanan secara keseluruhan, mulai dari transportasi sampai pembiayaan, disini kita akan membahas khusus tentang perencanaan pembuatan medan lintasan.</p>
<p>Ada beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan sebelum anda memplot jalur lintasan. Pertama, anda harus membekali dulu kemampuan untuk membaca peta, kemampuan untuk menafsirkan tanda-tanda medan yang tertera di peta, dan kemampuan dasar navigasi darat lain seperti resection, intersection, azimuth back azimuth, pengetahuan tentang peta kompas, dan sebagainya, minimal sebagaimana yang tercantum dalam bagian sebelum ini.</p>
<p>Kedua, selain informasi yang tertera dipeta, akan lebih membantu dalam perencanaan jika anda punya informasi tambahan lain tentang medan lintasan yang akan anda plot. Misalnya keterangan rekan yang pernah melewati medan tersebut, kondisi medan, vegetasi dan airnya. Semakin banyak informasi awal yang anda dapat, semakin matang rencana anda.</p>
<p>Tentang jalurnya sendiri, ada beberapa macam jalur lintasan yang akan kita buat. Pertama adalah tipe garis lurus, yakni jalur lintasan berupa garis yang ditarik lurus antara titik awal dan titik akhir. Kedua, tipe garis lurus dengan titik belok, yakni jalur lintasan masih berupa garis lurus, tapi lebih fleksibel karena pada titik-titik tertentu kita berbelok dengan menyesuaian kondisi medan. Yang ketiga dengan guide/patokan tanda medan tertentu, misalnya guide punggungan/guide lembahan/guide sungai. Jalur ini lebih fleksibel karena tidak lurus benar, tapi menyesuaikan kondisi medan, dengan tetap berpatokan tanda medan tertentu sebagai petokan pergerakannya.</p>
<p>Untuk membuat jalur lintasan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :</p>
<ul>
<li>Usahakan titik awal dan titik akhir adalah tanda medan yang ekstrim, dan memungkinkan untuk resection dari titik-titik tersebut.</li>
<li>Titik awal harus mudah dicapai/gampang aksesnya</li>
<li>Disepanjang jalur lintasan harus ada tanda medan yang memadai untuk dijadikan sebagai patokan, sehingga dalam perjalanan nanti anda dapat menentukan posisi anda di peta sesering mungkin.</li>
<li>Dalam menentukan jalur lintasan, perhatikan kebutuhan air, kecepatan pergerakan vegetasi yang berada dijalur lintasan, serta kondisi medan lintasan. Anda harus bisa memperkirakan hari ke berapa akan menemukan air, hari ke berapa medannya berupa tanjakan terjal dan sebagainya.</li>
<li>Mengingat banyaknya faktor yang perlu diperhatikan, usahakan untuk selalu berdiskusi dengan regu atau dengan orang yang sudah pernah melewati jalur tersebut sehingga resiko bisa diminimalkan.</li>
</ul>
<p><strong>Penampang Lintasan</strong><br />
Penampang lintasan adalah penggambaran secara proporsional bentuk jalur lintasan jika dilihat dari samping, dengan menggunakan garis kontur sebagai acuan.. Sebagaimana kita ketahui bahwa peta topografi yang dua dimensi, dan sudut pendangnya dari atas, agak sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana bentuk medan lintasan yang sebenarnya, terutama menyangkut ketinggian. Dalam kontur yang kerapatannya sedemikian rupa, bagaimana kira-kira bentuk di medan sebenarnya. Untuk memudahkan kita menggambarkan bentuk medan dari peta topografi yang ada, maka dibuatlah penampang lintasan.</p>
<p>Beberapa manfaat penampang lintasan :</p>
<ul>
<li>Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun perencanaan perjalanan</li>
<li>Memudahkan kita untuk menggambarkan kondisi keterjalan dan kecuraman medan</li>
<li>Dapat mengetahui titik-titik ketinggian dan jarak dari tanda medan tertentu</li>
</ul>
<p>Untuk menyusun penampang lintasan biasanya menggunakan kertas milimeter block, guna menambah akurasi penerjemahan dari peta topografi ke penampang. Langkah-langkah membuat penampang lintasan:</p>
<ul>
<li>Siapkan peta yang sudah diplot, kertas milimeter blok, pensil mekanik/pensil biasa yang runcing,   penggaris dan penghapus</li>
<li>Buatlah sumbu x, dan y. sumbu x mewakili jarak, dengan satuan rata-rata jarak dari lintasan yang anda buat. Misal meter atau kilometer. Sumbu y mewakili ketinggian, dengan satuan mdpl (meter diatas permukaan laut). Angkanya bisa dimulai dari titik terendah atau dibawahnya dan diakhiri titik tertinggi atau diatasnya.</li>
<li>Tempatkan titik awal di sumbu x=0 dan sumbu y sesuai dengan ketinggian titik tersebut. Lalu pada perubahan kontur berikutnya, buatlah satu titik lagi, dengan jarak dan ketinggian sesuai dengan perubahan kontur pada jalur yang sudah anda buat. Demikian seterusnya hingga titik akhir.</li>
<li>Perubahan satu kontur diwakili oleh satu titik. Titik-titik tersebut dihubungkan sat sama lainnya hingga membentuk penampang berupa garis menanjak, turun dan mendatar.</li>
<li>Tambahkan keterangan pada tanda-tanda medan tertentu, misalkan nama-nama sungai, puncakan dan titik-titik aktivitas anda (biasanya berupa titik bivak dan titik istirahat), ataupun tanda medan lainnya. Tambahan informasi tentang vegetasi pada setiap lintasan, dan skala penampang akan lebih membantu pembaca dalam menggunakan penampang yang telah dibuat.</li>
</ul>
<p>Sumber : Dari Berbagai Sumber</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.petualangan.com/2008/09/navigasi-darat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peralatan Memanjat</title>
		<link>http://www.petualangan.com/2008/08/peralatan-umum-memanjat/</link>
		<comments>http://www.petualangan.com/2008/08/peralatan-umum-memanjat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 16:25:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jelajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Climbing]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.petualangan.com/web/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah peralatan yang umum digunakan dalam pemanjatan.
Karabiner : cincin kait
- screw gate : cincin kait berulir/berkunci
- snap gate : cincin kait tidak berulir.
- D-RIng: cincin kait berbentuk D
Figure 8 / Descendeur
Alat untuk turun lewat tali berbentuk angka 8
Jummar / Ascendeur
Alat untuk meniti tali.
Sit Sling
Tiruan sit harness dari sling/webbing.
Sling
Gelang gelang dengan lingkar besar ( dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah peralatan yang umum digunakan dalam pemanjatan.</p>
<p><strong>Karabiner :</strong> cincin kait<br />
- screw gate : cincin kait berulir/berkunci<br />
- snap gate : cincin kait tidak berulir.<br />
- D-RIng: cincin kait berbentuk D</p>
<p><strong>Figure 8 / Descendeur</strong><br />
Alat untuk turun lewat tali berbentuk angka 8</p>
<p><strong>Jummar / Ascendeur</strong><br />
Alat untuk meniti tali.</p>
<p><strong>Sit Sling</strong><br />
Tiruan sit harness dari sling/webbing.</p>
<p><strong>Sling</strong><br />
Gelang gelang dengan lingkar besar ( dari pita nilon ).<br />
<span id="more-15"></span><br />
<strong>Heroloop</strong><br />
Gelang gelang dengan lingkar kecil ( dari pita nilon ).</p>
<p><strong>Handrill</strong><br />
Stang bor tebing</p>
<p><strong>Bolt</strong><br />
Mata bor</p>
<p><strong>Copper head</strong><br />
Bandul tembaga.</p>
<p><strong>Cone / baji</strong><br />
Keruncut untuk menekan mata bor.</p>
<p><strong>Hanger</strong><br />
Penggantung pada point bor.</p>
<p><strong>Rope</strong> : Tali<br />
- Kernmantle : Tali panjat bermantel<br />
- Hawser laid : Tali panjat ( Pilin )<br />
- Dinamic Rope : Tali berdaya lentur.<br />
- Static Rope : Tali tidak berdaya lentur.</p>
<p><strong>Pulley</strong><br />
katrol / kerekan.</p>
<p><strong>Stirrup/Etrier</strong><br />
Tangga dari pita nilon.</p>
<p><strong>Chalk bag</strong><br />
Kantong kapur berisi magnesium</p>
<p><strong>Rock Boat</strong> : sepatu panjat<br />
- Stiff sole : sepatu panjat beralas kaku<br />
- Flexible sole : sepatu beralas lentur.</p>
<p><strong>Big Bro</strong><br />
Pengaman sisip pegas untuk celah besar berbentuk pipa.</p>
<p><strong>Tuber</strong><br />
Selongsong buat belay.</p>
<p><strong>Crack `n up</strong><br />
Jangkar pencantol.</p>
<p><strong>Sky hook</strong><br />
Kait jangkar pencantol.</p>
<p><strong>Runner</strong><br />
Pengaman jalan.</p>
<p><strong>Tricam</strong><br />
Sisip ungkit 3 fungsi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.petualangan.com/2008/08/peralatan-umum-memanjat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tutorial Dasar Climbing</title>
		<link>http://www.petualangan.com/2008/08/tutorial-dasar-climbing/</link>
		<comments>http://www.petualangan.com/2008/08/tutorial-dasar-climbing/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 16:16:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jelajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Climbing]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.petualangan.com/web/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Tutorial ini berisikan Informasi dan pengetahuan dasar.
Macam macam pengaman
1. Bor
Cara penggunaan :
a. Pemasangan makan waktu +/- 30 menit.
b. Yang jadi masalah biasanya pelor/baji ( alat pemecah bor sering jatuh ) untuk mengatasi masalah tersebut, sebelum memanjat kita beri lakban/selotip.
2. Pasak
a. Untuk celah yang lebar &#62; siku ( pipih, angel, congor bebek ).
b. Untuk celah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam Tutorial ini berisikan Informasi dan pengetahuan dasar.</p>
<p><strong>Macam macam pengaman</strong><br />
1. Bor<br />
Cara penggunaan :<br />
a. Pemasangan makan waktu +/- 30 menit.<br />
b. Yang jadi masalah biasanya pelor/baji ( alat pemecah bor sering jatuh ) untuk mengatasi masalah tersebut, sebelum memanjat kita beri lakban/selotip.</p>
<p>2. Pasak<br />
a. Untuk celah yang lebar &gt; siku ( pipih, angel, congor bebek ).<br />
b. Untuk celah yang sempit &gt; Pahat ( kingpin ).<br />
<span id="more-12"></span><br />
<strong>Cara penggunaan:</strong><br />
a. Syarat pasak harus ada celah.<br />
b. Cara menemukan celah ( cari tumbuhan yang tumbuh didinding )<br />
c. Pemasangan pasak harus masuk sampai telinga pasak.<br />
d. Setelah dipasang pastikan bahwa pasak benar-benar kuat.<br />
e. Jika pasak goyang/bergerak sedikit saja, jangan dipakai.</p>
<p>3. Pengaman sisip<br />
a. Tidak Simetris ( Hexentric )&gt; Untuk celah yang besar.<br />
b. Simestris ( Stopper ) &gt; Untuk celah yang kecil.</p>
<p><strong>Cara penggunaan :</strong><br />
a. Diselipkan pada celah yang mengecil/menyempit kebawah, Jika menyempit keatas maka harus dipasang bertolak belakang.<br />
b. Untuk Hexentric kedua sisis harus menempel pada batu/tebing.<br />
c. Untuk mengecek kekuatan pengaman, jangan langsung di tes pakai badan<br />
( harness ) tapi di tes secara bertahap ( Oleh kekuatan kaki kemudian setengah badan dan akhirnya seluruh badan ) pemanjatan boleh langsung dilanjutkan.<br />
d. Agar Tali tubuh tidak friksi maka bisa dipanjangkan sengan sling, webbing, prusik + Karabiner snap.</p>
<p>4. Pengaman sisip pegas ( Friends )<br />
a. Keping ganjil.<br />
b. Keping genap.</p>
<p><strong>Cara penggunaan </strong>:<br />
a. Dipasang pada celah yang melebar/sejajar<br />
b. Untuk menghindari agar friend tidak patah maka bisa dipanjangjkkan dengan sling, webbing, psusik + karabiner snap.</p>
<p><strong>Sekilas tentang ASCENDING dan DESCENDING.</strong></p>
<p>Ascending ( naik meniti tali menggunakan askender ).<br />
Bisa menggunakan Jummar/Prusik<br />
- Jummar ada sepasang ( umumnya kuning dan biru, kiri atau kanan tergantung pemanjat dan kebiasaan )<br />
- Ascending bisa dikombinasikan ( 1 jummar, 1 prusik ) tapi kurang barik dan<br />
dilakukan apabila peralatan terbatas.<br />
- Jummar dapat menahan bobot 400kg.</p>
<p>Descending ( turun lewat tali menggunakan alat bantu ).<br />
Menggunakan Figure 8, Jika tidak ada bisa dipakai :<br />
- Grix Bar.<br />
- 2 Karabiner snap ( pintu harus bolak balik ).<br />
- Karabiner Screw ( arah screw dibawah ).<br />
- Pasak siku/congor bebek.<br />
- Hammer.</p>
<p><strong>PENAMBATAN</strong><br />
Dilakukan jika oeang I/ Leader telah menemukan tempat yang cocok untuk mengbilay orang ke2<br />
- Nilainya harus benar benar emas ( minimal 2 tambatan ).<br />
- Benar benar mampu menahan 2 orang/lebih.<br />
- Simpul yang dekat dengan pemanjat menggunakan simpul kacamata/pangkal/tiang.<br />
- Harus memakai karabiner screw.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.petualangan.com/2008/08/tutorial-dasar-climbing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Etika Penelusuran Goa</title>
		<link>http://www.petualangan.com/2008/08/etika-penelusuran-goa/</link>
		<comments>http://www.petualangan.com/2008/08/etika-penelusuran-goa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 08:17:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jelajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Caving]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.petualangan.com/web/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Menelusuri gua dapat dikerjakan untuk olah raga maupun untuk tujuan ilmiah.
Namun kedua kategori penelusur gua wajib menjunjung tinggi ETIKA dan KEWAJIBAN
kegiatan penelusur gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur
gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur sadar akan bahaya-bahaya
kegiatan ini dan mampu mencegah terjadinya musibah dan agar si penelusur sadar
akan kewajibannya terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menelusuri gua dapat dikerjakan untuk olah raga maupun untuk tujuan ilmiah.<br />
Namun kedua kategori penelusur gua wajib menjunjung tinggi ETIKA dan KEWAJIBAN<br />
kegiatan penelusur gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur<br />
gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur sadar akan bahaya-bahaya<br />
kegiatan ini dan mampu mencegah terjadinya musibah dan agar si penelusur sadar<br />
akan kewajibannya terhadap sesama penelusur dan masyarakat disekitar lokasi<br />
gua-gua. Kemahiran teknik saja TIDAK CUKUP untuk menganggap dirinya mampu dan<br />
pantas melakukan kegiatan penelusuran gua.</p>
<p>Seorang pemula atau yang sudah berpengalaman sekalipun harus memenuhi ETIKA<br />
dan KEWAJIBAN penelusuran gua.<span id="more-3"></span></p>
<p>ETIKA</p>
<p>Sejak semula harus disadari bahwa seorang penelusur gua DAPAT merusak gua,<br />
karena membawa kuman, jamur, dan virus asing ke dalam gua yang lingkungannya<br />
masih murni, tidak tercemar. Penelusuran gua akan merusak gua apabila meninggalkan<br />
kotoran berupa sampah, sisa karbit, puntung rokok, sisa makanan, batu baterai<br />
mati, kantong plastik, botol/kaleng minuman dan makanan dalam gua.</p>
<p>MEMBUANG benda-benda tersebut di atas adalah LARANGAN MUTLAK juga dilarang corat-coret<br />
gua dengan benda apapun juga.</p>
<p>Karenanya ikutilah Motto :</p>
<p>“jangan mengambil sesuatu……… kecuali mengambil potret”</p>
<p>“jangan meninggalkan sesuatu ….. kecuali meninggalkan jejak”</p>
<p>“jangan membunuh sesuatu ……… kecuali membunuh waktu”</p>
<p>Gua adalah bentukan alam yang terbentuk dalam kurun waktu ribuan tahun. Setiap<br />
usaha merusak gua mendatangkan kerugian yang tidak dapat di tebus. Karenanya<br />
jangan merusak gua, mengambil atau memindahkan sesuatu di dalam gua tanpa tujuan<br />
jelas yang dapat dipertanggungjawabkan.</p>
<p>Untuk tuuan ilmiah sekalipun harus diusahakan pengambilan specimen secara cermat,<br />
terbatas dan selektif. Itupun setelah diyakini, bahwa belum tersedia specimen<br />
yang sama di dalam laporan atau museum dan belum diambil specimen yang sama<br />
oleh ahli speleologi lainnya.</p>
<p>Menelusuri dan meneliti gua harus dilakukan dengan penuh RESPEK, tanpa mengganggu,<br />
mengusir, merusak/mengambil isi gua, baik yang berupa benda mati atau yang hidup.</p>
<p>Menelusuri gua harus disertai kendaraan, bahwa kesanggupan dan ketrampilan<br />
pribadi TIDAK USAH DIPAMERKAN. Sebaliknya ketidakmampuan tidak perlu ditutupi<br />
oleh karena rasa malu. Bertindaklah sewajar-wajarnya, tanpa membohongi diri<br />
sendiri dan orang lain. Apabila tidak sanggup, tetapi dipaksakan maka hal ini<br />
akan membawa akibat buruk yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Adalah melanggar<br />
ETIKA untuk memandang rendah ketrampilan serta kesanggupan sesama penelusur.<br />
Juga melanggar etika bila memaksakan diri dilakukan tindakan di luar kemampuan<br />
teknis juga apabila belum siap mental dan kesehatan tidak memadai.</p>
<p>Tunjukkan RESPEK terhadap penelusur gua dengan cara :</p>
<p>- Tidak menggunakan bahan-bahan atau peralatan yang disediakan oleh rombongan<br />
lain tanpa persetujuan mereka. Jangan membahayakan para penelusur lain, misalnya<br />
menimpukkan batu ketika ada penelusur lain di dalam gua, mengambil atau memutuskan<br />
tali yang sedang terpasang, memindahkan tangga atau alat-alat lain yang dipasang<br />
pemakai, penelusur lain.</p>
<p>- Menghasut penduduk di sekitar gua untuk melarang atau menghalangi rombongan<br />
lain memasuki gua, karena tidak ada satupun gua di bumi ini milik perseorangan<br />
kecuali apabila gua itu telah dibeli oleh yang bersangkutan. Untuk tujuan ilmiahpun,<br />
setiap gua harus dapt diteliti setelah menempuh prosedur yang berlaku.</p>
<p>- Jangan gegabah menganggap anda penemu sesuatu, kalau anda yakin betul, bahwa<br />
tidak ada orang lain yang menemukannya pula.</p>
<p>- Jangan melaporkan hal-hal yang tidak benar demi sensasi atau ambisi pribadi,<br />
karena hal ini berarti membohongi diri sendiri dan dunia ilmu speleologi khususnya.</p>
<p>- Setiap usaha penelusuran gua ialah USAHA BERSAMA. Bukan usaha yang dicapai<br />
sendiri. Karena setiap publikasi dari hasil penelusuran gua tidak boleh menonjolkan<br />
prestasi pribadi tanpa mengingat jasa sesama penelusur.</p>
<p>- Jangan menjelek-jelekkan nama sesama penelusur dalam suatu publikasi walaupun<br />
si penelusur itu mungkin berbuat hal-hal negatif secara sadar atau tidak sadar.<br />
Setiap publikasi negatif tentang sesama penelusur akan memberikan gambaran negatif<br />
terhadap semua penelusur gua.</p>
<p>- Jangan melakukan penelitian yang sama apabila ada rombongan lain yang sedang<br />
mengerjakan DAN BELUM MEMPUBLIKASIKANNYA.</p>
<p>BAHAYA-BAHAYA PENELUSURAN GUA</p>
<p>Bahaya-bahaya penelusuran gua secara sudut pandangnya dapat dibedakan menjadi<br />
dua :</p>
<p>A. Antroposentrisme, meninjau sudut pandang bahaya penelusuran gua terahadap<br />
penelusur gua, biasanya</p>
<p>terjadi akibat kealpaan atau kecerobohan penelusur gua itu sendiri.</p>
<p>B. Speleosentrisme, meninjau dari sudut pandang bahaya penelusuran gua terhadap<br />
gua itu sendiri, dari</p>
<p>Tindakan-tindakan para penelusur gua.</p>
<p>Bahaya-bahaya dari sudut pandang Antrosentrisme :</p>
<p>1. Terpeleset/terjatuh dengan akibat fatal, atau gegar otak, terkilir, terluka,<br />
patah tulang dsb. Hal ini paling sering terjadi, antara lain karena : penelusur<br />
terburu-buru meloncat, salah menduga jarak dan sebagainya.</p>
<p>2. Kepala terantuk atap gua/stalaktit/bentukan gua lainnya. Akibatnya : luka<br />
memar, luka berdarah, gegar otak. Wajib pakai helm.</p>
<p>3. Tersesat. Terutama bila lorong bercabang-bertingkat dan daya orientasi pemimpin<br />
regu penelusur kurang baik. Karenanya setiap penelusuran wajib dilakukan dengan<br />
penuh perhatian oleh setiap penelusur. Bentuk lorong yang telah dilewati, dibelakang<br />
pungung harus diperhatikan secara periodik, karena saat kembali pasti berbeda<br />
dengan saat pergi. Pada setiap percabangan ditinggalkan tanda yang mudah dikenal<br />
dan tidak merusak lingkungan (misalnya tumpukan batu, atau kertas berwarna dan<br />
berefleksi bila terkena sorotan lampu (fluorensensi) yang mudah diangkat kembali).<br />
Hal ini tambah penting, apabila kecuali bercabang gua bertingkat banyak.</p>
<p>4. Tenggelam. Terutama apabila nekat memasuki gua pada musim hujan tanpa mempelajari<br />
topografi dan hidrologi karst maupun sifat sungai di bawah tanah. Bahaya semakin<br />
nyata kalau harus melewati air terjun atau jeram deras. Apalagi kalau harus<br />
melakukan penyelamatan bebas tanpa alat dan penelusur kurang mahir berenang/menyelam.<br />
Jangan lupa membawa pelampung dan sumber cahaya kedap air. Mengarungi sungai<br />
yang dalam, harus pakai tali pengaman dengan lintasan tepat.</p>
<p>5. Kedinginan (Hipotermia). Hal ini terutama bila lokasi gua jauh di atas permukaan<br />
laut, penelusur beberapa jam terendam air, dan adanya angin kencang yang berhembus<br />
dalam lorong tersebut. Diperberat apabila penelusur lelah, lapar, tidak pakai<br />
pakaian memadai. Karenanya harus tepat mengetahui lokasi mulut gua dan lorong-lorong<br />
ketinggiannya di atas permukaan laut (diukur pakai altimeter), suhu air dan<br />
udara dalam gua. Harus pula masuk gua dalam keadaan fisik sehat, cukup makan<br />
dan bawa makanan cadangan bergizi tinggi.</p>
<p>6. Dehidrasi. Kekurangan cairan. Hal ini sudah merupakan bahan penelitian cermat<br />
di Perancis. Hampir senantiasa bila sudah timbul rasa haus, sudah ada gejala<br />
dehidrasi. Karenanya sudah menjadi suatu kewajiban yang tidak dapat ditawar<br />
lagi, bahwa sebelum memasuki gua, setiap penelusur harus minum secukupnya. Cairan<br />
paling tepat untuk menghindari dehidrasi ialah larutan oralit atau garam anti<br />
diare.</p>
<p>7. Keruntuhan atap atau dinding gua. Ini memang nasib sial, tetapi sudah cukup<br />
sering terajdi di luar negeri menaiki tebing dengan andalan pada paku tebing<br />
yang dindingnya rapuh. Atau bila kebetulah terjadi gempa bumi. Karenanya wajib<br />
mempelajari dan memperbaiki sifat batu-batuan dinding dan atap gua. Runtuhan<br />
atap yang berserakan bukan berarti gua itu rapuh, karenamungkin saja atap itu<br />
sudah puluhan tahun yang lalu runtuh, tetapi penelusur wajib memperhatikan apakah<br />
lapisan-lapisan batu gamping yang menunjang atap itu kuat atau sudah terlihat<br />
terlepas.</p>
<p>8. Radiasi dalam gua. Hal ini belum diperhatikan sama sekali di Indonesia,<br />
padahal di luar negeri sudah merupakan bahaya nyata. Terutama akibat gas radioaktif<br />
radon dan turunannya. Penelusur yang sering memasuki gua yang bergas radon ini<br />
dapat menyerap secara akumulatif gas ini ke dalam paru-parunya, dan terbukti,<br />
apabila penelusur gemar merokok, maka bahaya menderita kanker paru-paru akan<br />
berlipat ganda. Itu sebabnya sangat dicela penghisap rokok menjadi penelusur<br />
gua. Merokok dalam gua dilarang mutlak karenameracuni udara gua dan paru-paru<br />
penelusur lainnya yang tidak merokok.</p>
<p><strong>Sumber : Dari berbagai sumber</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.petualangan.com/2008/08/etika-penelusuran-goa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
